Lagi-lagi, krisis global….cape deh….

Posted in Uncategorized on May 18, 2009 by damartriadi

KOMPAS.com Memiliki mobil atau rumah tidak selamanya harus dengan uang tunai, tetapi bisa dengan mencicil. Bahkan tidak sedikit orang yang memiliki televisi karena mencicil. Jangan kecil hati, kebiasaan mencicil sudah berlangsung sejak lama di dunia dengan mengandalkan pembayaran dari gaji tetap.

Hanya orang mapan dan superkaya yang bisa membeli segala kebutuhan dengan uang tunai. Namun sayangnya, seperti ditunjukkan dari hasil penelitian Gemini Capital dan Merrill Lynch setiap tahun, kekayaan di dunia ini tidak terbagi rata di antara tujuh miliar penduduk dunia. Bahkan, ketidakmerataan itu begitu timpang.

Hampir semua, tentu sebagian macet, kegiatan mencicil seperti itu berjalan lancar. Tidak terdengar kebangkrutan massal perusahaan keuangan secara global sejak 1930-an. Ada sejumlah kasus kehancuran sistem keuangan di beberapa negara dalam beberapa dekade terakhir, namun tidak sampai memberi efek domino kebangkrutan massal seperti sekarang.

Bukti lain,  Presiden Bank Dunia Robert Zoellick dan Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn mengatakan, tak pernah ada pertumbuhan ekonomi dunia yang negatif sejak Depresi Besar 1929. Artinya, kegiatan pinjam-meminjam relatif lancar saja.

Paul Krugman dan Joseph E Stiglitz, dua ekonom AS peraih Nobel Ekonomi, mengatakan, ada regulasi yang membuat bank-bank dan lembaga keuangan memberi kredit dengan rambu-rambu yang aman. Jika sebagian kredit yang dikucurkan macet, ada perusahaan asuransi yang menjamin kemacetan itu, atau bank itu sendiri punya cadangan untuk mengompensasi kredit macet.

Jika bank-bank itu bangkrut sekalian, ada perusahaan yang menjamin deposito nasabah, seperti Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di AS dan juga di Indonesia.

Dengan sistem seperti itu, konsumen, nasabah, dan perbankan sama-sama merasa aman dengan kegiatan saling meminjamkan, termasuk kegiatan meminjamkan ke perusahaan. Dari proses pinjam-meminjam ini terjadilah permintaan, yang menjadi inti pendorong aktivitas perekonomian. Bahkan perbankan bersedia memberi kartu kredit kepada miliaran penduduk dunia, yang semakin mendorong permintaan dan kemampuan berbelanja.

Continue reading

Sapta dan Karna pergi ke pasar

Posted in Uncategorized on February 28, 2009 by damartriadi

Tersebutlah Karna dan Sapta sedang berbelanja ke pasar Sukamantri….ceritanya mereka berencana membeli kebutuhan sehari-hari mereka: Ember, Sikat gigi, dan rencananya mau pesan pupuk pesanan Pak Endang bosnya KUD.

Karna : Wah…kok pasar agak sepi ya?

Sapta : Iya, padahal kan sekarang mustinya banyak yang belanja….da musim panen kan baru kemaren.

Penasaran, mereka pun bertanya ke Hansip yang sedang duduk melamun sambil melintir-lintirkan sebatang kretek buatan Kediri.

Sapta : Pak, punten. Tumben ieu….meni sepi pisan….kenapa ya kok begini?

Hansip : Iya cep….orang-orang pada males beli-beli nih.

Sapta : Naha kitu pak?

Continue reading

Sekuritisasi Aset

Posted in Uncategorized on February 26, 2009 by damartriadi

Sekuritisasi Aset berarti mengamankan asset dari resiko yang mungkin akan membahayakan asset itu.

Credit Default Swap (CDS) adalah sejenis sekuritisasi asset yang dikenakan atas asset kredit beresiko tinggi (subprime). Ia menjadi salah satu tertuduh dari kolapsnya beberapa bank besar di Negara-negara maju dalam krisis financial 2008 yang dimulai dari memburuknya kolektibilitas Subprime Mortgage AS di Semester II 2007.

Continue reading

Lesson Learned from the last Great Depression of 1930’s

Posted in Uncategorized on February 26, 2009 by damartriadi

Krisis Ekonomi Global tahun 2008 mulai menghantui kita semua. Hingga saat ini masih belum ada pihak yang berani menyatakan, sedalam apa krisis ini, berapa lama kita akan berada dalam krisis, apa penyebabnya, dan bagaimana memulihkan ekonomi dunia kembali ke sebelum 2008.

Hal menarik yang lazim dilakukan orang berakal adalah mencari penjelasan dari kejadian yang serupa/mirip. Nah, kejadian yang mungkin mirip dengan krisis Ekonomi 2008 ini adalah The Great Depression of 1930’s.

Depresi global tahun 1930 ditenggarai dimulai dengan runtuhnya Wall Street tahun 1929 dalam kejadian yang dikenal dengan Black Thursday di Amerika Serikat. Setelah itu kejadian buruk datang bertubi-tubi, mulai dari bank rush, tutupnya berbagai perusahaan, ratusan bank dibangkrutkan, pengangguran meningkat tajam, hingga kontraksi dalam ekonomi. Berbagai teori telah dikemukakan untuk menjawab apa yang menjadi sebab dari depresi ekonomi global ini, mulai dari kebijakan pengetatan likuiditas yang dilakukan berbagai bank, kesalahan yang dilakukan the Fed dalam menjaga jumlahuang yang beredar, keputusan Bank Sentral Inggris untuk kembali ke Standar Emas sebelum Perang Dunia I, dan banyak hal lainnya.

Namun ada satu penjelasan menarik yang diberikan oleh Marriner S. Eccles, pemimpin Federal Reserve AS di era Franklin D Roosevelt dan selanjutnya (1934-1948). Ia menuliskan secara cukup mendetail apa yang ia yakini sebagai penyebab Depresi ini dalam Memoirnya , Beckoning Frontiers (New York, Alfred A. Knopf, 1951)[24]:

Continue reading

Swat Ceasefire: A Six Million-Dollar Question?

Posted in Uncategorized on February 26, 2009 by damartriadi

Wed, 25 Feb 2009 20:33:57 GMT
By Kian Mokhtari

Gencatan senjata antara militan Taliban dengan Islamabad di lembah Swat di Utara Pakistan tampak bertentangan dengan akal sehat. Pasti ada sesuatu yang lebih besar di balik pengumuman ini, sesuatu yang lebih luas daripada rumor pembayaran USD 6 juta dan kesepakatan atas implementasi hukum syariat Islam oleh Taliban.


Continue reading

Krisis Finansial Global, Babak akhir Kapitalisme?

Posted in Uncategorized on February 26, 2009 by damartriadi

Pada akhir Ramadhan 1429 H, atau akhir September 2008, ketika umat Muslimin sedunia bersiap mengakhiri Ramadhan dan menyambut tibanya hari raya Idul Fitri, kejadian dramatis menimpa berbagai sentra-sentra kapitalisme dunia. Dimulai dengan bangkrutnya Lehman Brothers, suatu bank investasi besar AS dengan jumlah asset lebih dari USD 275 milyar dengan usia 150 tahun, lalu berlanjut ke krisis likuiditas seluruh bank di Amerika dan Uni Eropa. Pasar uang antar Bank London (LIBOR), di mana bank-bank saling meminjam dengan suku bunga yang dipertukarkan, mengalami lonjakan yang cukup drastic hingga sempat menyentuh belasan persen (sebelumnya ada di kisaran 2%) hingga akhirnya stabil di level 6% an . Ekspor-impor dunia pada akhir September turun 50% karena Bank-bank kesulitan likuiditas sehingga terpaksa menolak pembukaan L/C dari international traders. Kesulitan likiditas yang parah ini juga bahkan sempat menimpa jaringan hotel besar dunia JW Marriott yang terpaksa membatalkan/menunda operasionalnya karena tak bisa menemukan pinjaman dari pasar uang dunia (Money Market)
Continue reading

Operation Cast Lead : Petualangan Militer tanpa hasil

Posted in Uncategorized on February 26, 2009 by damartriadi

Baron Von Clausewitz dalam bukunya “Vom Krieg” (Tentang Perang) menyebutkan premisnya yang sering dikutip ahli militer kontemporer “Perang adalah kelanjutan dari politik.” Artinya, perang merupakan salah satu instrument yang digunakan orang dalam meraih tujuan politiknya. Namun, Clausewitz sebenarnya sedang melakukan proses dialektika. Ketika ia mengatakan “Perang adalah kelanjutan dari politik”, sebenarnya ia sedang mengutarakan sebuah tesis. Antitesis yang ia ungkapkan kemudian adalah “Perang adalah murni untuk membunuh musuh.”

Ketika Israel memulai serangannya ke Gaza di akhir Desember 2008, ia menyebutkan dua tujuan: Pertama, melemahkan Hamas; dan kedua, menghancurkan infrastruktur roket-roket yang mengancam Israel bagian selatan.
Continue reading