Swat Ceasefire: A Six Million-Dollar Question?

Wed, 25 Feb 2009 20:33:57 GMT
By Kian Mokhtari

Gencatan senjata antara militan Taliban dengan Islamabad di lembah Swat di Utara Pakistan tampak bertentangan dengan akal sehat. Pasti ada sesuatu yang lebih besar di balik pengumuman ini, sesuatu yang lebih luas daripada rumor pembayaran USD 6 juta dan kesepakatan atas implementasi hukum syariat Islam oleh Taliban.

Banyak yang berspekulasi apakah maneuver yang dilakukan tim Jenderal Petraeus dari AS memiliki kaitan dengan hal ini. Bagaimanapun, kekuasaan yang dipegang Taliban di sisi mana pun dari perbatasan Afghanistan tidak memiliki maslahat untuk jangka panjang.

Ada keunikan yang berlaku dalam system pemerintahan Pakistan di wilayah perbatasan utara, yaitu bahwa yang berlaku adalah system federal. Dengan kata lain, secara de jure mereka memang berada di bawah kekuasaan Pakistan, namun kekuasaan de facto Islamabad tidak berlaku atas mereka. Wilayah-wilayah perbatasan ini diatur oleh pemerintah setempat. Meskipun mengatakan wilayah ini sebagai wilayah otonom tampaknya masih belum tepat, namun membayangkan Taliban bukan lagi menjadi penguasa wilayah ini juga sangat sulit.

Pasukan Pakistan dan militan Taliban telah melakukan perjanjian gencatan senjata sejak 15 Februari. Perjanjian ini bisa terbentuk setelah pemerintah Pakistan menawarkan pemberlakuan hukum syariat sebagai imbalan atas perlucutan senjata Taliban. Perjanjian gencatan senjata ini akan habis masa berlakunya pada hari Rabu (25/2) namun tampaknya pimpinan militan Taliban telah memperpanjangnya hingga “masa yang tidak ditentukan”.

Yang juga mengejutkan adalah pengumuman dari militan di Bajur, juga di wilayah Utara-Barat Laut, yang menyatakan kalau mereka juga akan melakukan gencatan senjata dengan pemerintah.

Kendali pihak militan di wilayah Utara-Baratlaut Pakistan sangat kuat, seperti halnya di Waziristan Selatan. Kegagalan berulang Islamabad dari menerapkan pemerintahan yang efektif dari sisi administratif dan yudisial telah dimanfaatkan oleh Taliban. Bahkan militan Taliban telah mengukuhkan system peradilan, pajak, dan administratif yang parallel, lengkap dengan patroli keamanan dan pos pemeriksaan di wilayah lembah Swat dan sekitarnya.

Militan ini tidak saja berhasil bertahan dari operasi militer selama setahun penuh, namun juga melakukan operasi-operasi “khas” mereka, seperti: memenggal musuh, menyerbu komunitas Syiah dan Ismailiyah, serta membom atau membakar sekolah-sekolah.

Tampaknya para Taliban ini tidak mempunyai memori jangka panjang serta gagal mengingat Bapak pendiri Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, yang berasal dari kelompok Syiah-Ismailiyah, meskipun selanjutnya ia pindah memeluk mahzab Syiah duabelas Imam. Jinnah kemudian menyebutkan, tak lama setelah Pakta Lucknow di tahun 1916, bahwa rencananya mendirikan negara yang aman untuk Muslimin dalam melakukan hak-haknya dalam wadah Negara Pakistan bisa terwujud jauh lebih awal sekiranya kaum Muslimin di sana bersatu.

Militan Taliban mengimpikan “Negara Islam” yang jauh dari standar keislaman. Mahzab mereka, Wahhabi, adalah mahzab yang sangat tidak toleran. Catatan brutal mereka terbentuk ketika mereka dahulu berkuasa, meskipun hanya dalam waktu yang singkat, di Afghanistan: penghancuran monumen Buddha di Bamian, penutupan sekolah untuk anak-anak putri, pelarangan seluruh kegiatan budaya dan pembunuhan sektarian massal serta pemenggalan-pemenggalan.

Pakistan bersikeras kalau mereka akan kembali mendapatkan kendali di wilayah Barat-lautnya, namun bentuk kendali ini secara politik memiliki definisi yang luas. Tindakan mereka yang menyerahkan kekuasaan kepada Taliban tampaknya masih sesuai dengan definisi mereka tentang “kendali” ini. Di tengah keterisolasian daerah perbatasan yang terpencil ini, Taliban dapat memaksakan kekuasaan mereka dengan cara-cara yang brutal –contohnya pembantaian kaum Syiah baru-baru ini di Parachinar– serta lepas dari pantauan media internasional.

Namun bahaya Taliban ini tidak akan terbatas di wilayah perbatasan utara Pakistan. Tujuan akhir militan ini adalah menguasai seluruh dunia Islam. Kesuksesan mereka dalam menguasai utara Pakistan, sebuah Negara yang memiliki senjata nuklir, dan hanya 160 km dari ibukota Islamabad tampaknya sebuah hasil yang “menggembirakan” bagi grup ekstremis ini dalam rangka menguasai dunia.

Pemerintah Pakistan tampaknya telah sadar akan keengganan pasukan mereka untuk bertempur dengan pihak militan di darat, dan serangan-serangan udara mereka yang dilakukan secara jarang-jarang tampaknya hanya memberi hasil yang sangat terbatas, hingga akhirnya ditandatanganinya perjanjian gencatan senjata ini. Dengan demikian, secara efektif Taliban telah memenangkan perang atas kekuasaan di wilayah lembah Swat ini. Dan kemudian, tuntutan Presiden Pakistan Asif Zardari agar Taliban meletakkan senjata mereka tampaknya tidak membuat mereka (Taliban) bergeming. Demikian menurut sejumlah laporan dari pihak setempat.

Kekacauan yang dibuat AS di Afghanistan tampaknya telah merambat ke Pakistan; dan hal ini mirip-mirip kondisi yang berlangsung ketika Prancis dikalahkan di Indochina/Vietnam yang kemudian terpecah-pecah menjadi berbagai Negara Utara, Selatan, Kamboja dan Laos. Kita semua tahu apa yang terjadi di wilayah itu kemudian…

Terjemah dari PressTV.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: