Operation Cast Lead : Petualangan Militer tanpa hasil

Baron Von Clausewitz dalam bukunya “Vom Krieg” (Tentang Perang) menyebutkan premisnya yang sering dikutip ahli militer kontemporer “Perang adalah kelanjutan dari politik.” Artinya, perang merupakan salah satu instrument yang digunakan orang dalam meraih tujuan politiknya. Namun, Clausewitz sebenarnya sedang melakukan proses dialektika. Ketika ia mengatakan “Perang adalah kelanjutan dari politik”, sebenarnya ia sedang mengutarakan sebuah tesis. Antitesis yang ia ungkapkan kemudian adalah “Perang adalah murni untuk membunuh musuh.”

Ketika Israel memulai serangannya ke Gaza di akhir Desember 2008, ia menyebutkan dua tujuan: Pertama, melemahkan Hamas; dan kedua, menghancurkan infrastruktur roket-roket yang mengancam Israel bagian selatan.

Dengan modal dua sasaran ini, maka dimulailah operasi Cast Lead ini. Tanpa perlu lebih lanjut mengenai kronologis dan akibat-akibat menakutkan yang dihasilkan dari operasi militer ini, kita langsung saja lompat pada kondisi setelah Cast Lead ini “diakhiri” Israel secara sepihak.

Pertama, rakyat Palestina kini bersatu di bawah kepemimpinan Hamas. Tidak ada pemberontakan terbuka yang dilakukan warga Gaza atas otoritas Hamas. Kedua, alih-alih membungkam hujan roket ”al-Qassam”, di hari ketika PM Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak dengan alasan ”Infrastruktur Roket Hamas telah dihancurkan” Hamas malah meluncurkan lusinan roket di wilayah Israel. Sebuah tindakan yang menohok Israel tepat di jakun mereka.

Maka, dalam perspektif tesis Clausewitz, di mana perang digunakan sebagai instrumen politik, operasi Cast Lead ini jelas gagal.

Yang menarik adalah antitesis Clausewitz ”Perang adalah murni membunuh musuh.” Tampaknya, dalam hal ini Israel memiliki sedikit kemajuan. Operasi Cast Lead selama tiga minggu mempertontonkan brutalitas murni yang dilakukan Israel. Alat militer tercanggih digunakan untuk membantai warga sipil, anak-anak, orang tua, wanita-wanita. Sasarannya bukanlah tank atau kapal perang, melainkan rumah sakit dan sekolah-sekolah. Maka, spektrum kesadisan menjadi sangat dominan dalam operasi Cast Lead ini.

Ironisnya, kesadisan tingkat ekstrim yang ditunjukkan militer Israel ini tidak mampu meredam keunggulan perlawanan Hamas, apalagi membunuhnya. Malahan, efek pemboman bertubi-tubi yang dilakukan Israel ini justru memberikan beberapa keuntungan di pihak Hamas, antara lain:

1. Timbulnya amarah di masyarakat Gaza karena pemboman yang dilakukan ini tidak memandang sisi etika kemanusiaan. Kemarahan ini membuat kesatuan antara masyarakat dan pejuang Hamas menjadi kuat, bahkan memberikan potensi semakin banyak dari warga yang dahulunya tidak mendukung Hamas malah bergabung dengan sayap militer organisasi massa ini.

2. Secara militer, kota yang telah mengalami pemboman dan banyak didalamnya puing-puing bangunan yang runtuh justru menjadi keunggulan bagi pihak bertahan dalam strategi urban warfare.

3. Hamas dan Gaza mendapatkan simpati secara universal oleh masyarakat dunia. Belum pernah ada sebuah pihak yang dikepung, diisolasi, dan kemudian diserang secara bertubi-tubi oleh sebuah kekuatan militer yang konon paling kuat di wilayahnya. Karena fakta ini, Hamas memperoleh keunggulan publisitas dan Israel menjadi villain/penjahat.

Dengan demikian, menjadi genap-lah kegagalan Israel. Bahkan melalui kesadisan yang ditampilkan, Israel gagal mendapat keuntungan yang dikehendakinya. Bukannya membunuh musuh dan menjadikannya musnah menjadi abu, malah berubah menjadi ksatria yang bisa berdiri tegap, dengan dukungan warga dunia, dan menjadikan militer Israel sejenis paria dalam kemiliteran dunia.

Secara analisis kemiliteran, operasi Cast Lead ini sudah ditakdirkan akan gagal sejak hari pertama. Dalam dua spektrum tesis dan antitesis-nya, Clausewitz, tidak ada tujuan yang bisa diharapkan dicapai oleh Israel dalam melakukan agresi ini.

1. Dalam hal perang sebagai bagian dari proses politik. Seharusnya komandan militer Israel mengetahui kalau kekuatan politik yang lahir dari rakyat tidak akan pernah bisa dihancurkan dengan kekuatan militer saja. Kalau mau menghancurkan Hamas, Israel seharusnya mengerahkan sumber daya dari sektor-sektor lain selain militer, entah itu budaya, ekonomi, sosial, dll. Kemungkinannya adalah kalau sesungguhnya mereka menyadari hal itu, namun telah mengalami kegagalan selama bertahun-tahun. Dengan demikian, operasi Cast Lead ini dilakukan sebagai upaya putus asa (desperation atau last resort). Apapun yang menjadi alasan diambilnya tindakan militer ini, tidak mengubah fakta awal  Kekuatan Militer tidak pernah bisa menghancurkan kekuatan rakyat.

2. Dalam hal perang sebagai murni membunuh musuh. Dalam perspektif ini, tujuan perang baru akan tercapai bila musuh telah habis dibunuh. Sayangnya, untuk memenuhi tujuan ini, Israel tidak mengerahkan alat yang paling efektif, bom nuklir misalnya. Sebenarnya untuk menghancurkan Gaza, cukup digunakan bom nuklir di kelas 30-40 kiloton (tactical nuclear). Israel pasti memiliki senjata sejenis itu. Apa alasan mereka? Tentunya berhentinya Israel dianggap sebagai kelas manusia oleh warga dunia. Sudah cukup buruk mereka memblokade sebuah kota dari segala arah, dua tahun tanpa suplai bahan bakar, obat-obatan, kebutuhan pokok, kecuali melalui terowongan-terowongan di perbatasan Rafah. Ditambah lagi pemboman sadis yang dilakukan. Untuk pemboman-pembonan dengan senjata konvensional, mereka punya alasan ”Pejuang Hamas berlindung di antara warga sipil.” Alasan ini saja tidak cukup membendung murka dunia. Apa yang bisa melindungi mereka dari amarah dunia kalau mereka membom Gaza dengan bom nuklir? Mereka sesungguhnya ingin melakukan hal ini, namun mereka sadar kalau mereka juga masih anggota dari spesies manusia di muka bumi.

Maka, tidak ada yang bisa diharapkan untuk dipanen oleh Israel dalam melakukan operasi Cast Lead ini. Sesungguhnya analisa ini dan kesimpulannya tetap berlaku apapun hasil dari perang kemarin. Misalkan ternyata pejuang Hamas berhasil dikalahkan, dan kini Israel menguasai Gaza. Tetap saja Hamas akan menjadi pahlawan Palestina, dan kekuatannya tidak akan musnah, melainkan sekedar dormant dan pada waktunya akan kembali lagi.

Apalagi kalau kejadiannya seperti sekarang, ketika pejuang Palestina berhasil menghadang Israel, ketika Israel terpaksa mengumumkan ”gencatan senjata sepihak”, dan ketika pejuang Palestina yang gugur lebih sedikit daripada tentara Israel. Intinya, bahkan secara militer, tempat Israel menyimpan harapan, ia tetap dikalahkan.

Yang pasti, Israel kini sedang dalam kondisi yang amat terjepit. Kalau melakukan analogi ke sejarah Perang Dunia II, Israel telah melewati ”fase Stalingrad”. Seperti Jerman yang dahulu selalu menang sebelum 1942, kemudian berubah menjadi selalu bertahan setelah dikalahkan secara tragis di kota Stalingrad, hingga akhirnya tentara merah Rusia masuk ke kota Berlin di April 1945. Nazi German mulai dikalahkan di perang kota, di Stalingrad, dan kini Israel kehilangan momentum secara militer di kota Gaza. Terngiang-ngiang ucapan Nietszche ”Sejarah selalu berulang”. Insya Allah, di masa depan yang tidak lama lagi, akan masuk tank-tank tentara Muslimin ke kota Tel Aviv, sebagai penakluk…
Wallahu’alam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: