Krisis Finansial Global, Babak akhir Kapitalisme?

Pada akhir Ramadhan 1429 H, atau akhir September 2008, ketika umat Muslimin sedunia bersiap mengakhiri Ramadhan dan menyambut tibanya hari raya Idul Fitri, kejadian dramatis menimpa berbagai sentra-sentra kapitalisme dunia. Dimulai dengan bangkrutnya Lehman Brothers, suatu bank investasi besar AS dengan jumlah asset lebih dari USD 275 milyar dengan usia 150 tahun, lalu berlanjut ke krisis likuiditas seluruh bank di Amerika dan Uni Eropa. Pasar uang antar Bank London (LIBOR), di mana bank-bank saling meminjam dengan suku bunga yang dipertukarkan, mengalami lonjakan yang cukup drastic hingga sempat menyentuh belasan persen (sebelumnya ada di kisaran 2%) hingga akhirnya stabil di level 6% an . Ekspor-impor dunia pada akhir September turun 50% karena Bank-bank kesulitan likuiditas sehingga terpaksa menolak pembukaan L/C dari international traders. Kesulitan likiditas yang parah ini juga bahkan sempat menimpa jaringan hotel besar dunia JW Marriott yang terpaksa membatalkan/menunda operasionalnya karena tak bisa menemukan pinjaman dari pasar uang dunia (Money Market)

Kesulitan likiditas ini kemudian berimbas pada berbagai bursa saham utama dunia. Indeks Dow Jones sampai melorot ke level paling rendah di 8900-an (dari sebelumnya di level 14.000-an). Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai di-suspend selama tiga hari setelah mengalami penurunan fenomenal 10% dalam satu jam. Penurunan indeks ini dialami berbagai bursa dunia, mulai dari Wall Street, Nikei, Hang Seng, hingga bursa-bursa yang masih baru seperti di Timur Tengah dan Asia Selatan dengan besaran penurunan nilai hingga 10% per hari.

Krisis likiditas akhirnya sedikit mengalami kelonggaran setelah intervensi langsung pemerintah-pemerintah di dunia. AS menyetujui paket bailout senilai total USD 700 milyar. Inggris dan pemerintah-pemerintah yang tergabung dalam Uni Eropa melakukan hal yang sama dengan jumlah komitmen yang tak kalah fantastisnya hingga di kisaran USD 900 milyar. Pemerintah dan Bank Sentral lain juga tak kalah melakukan berbagai aksi darurat untuk mencegah hancurnya ekonomi global pada minggu terakhir September hingga minggu ketiga Oktober. Kini para pelaku pasar financial sedikit bernapas lega karena berbagai komitmen penyelamatan dari pemerintah itu, namun berbagai indicator ekonomi global sepertinya masih menunjukkan kalau “The worst is still to come”

Sejatinya, drama yang terpampang di panggung global pada September-Oktober 2008 ini hanyalah kejadian akhir dari berbagai penyimpangan yang telah berlangsung sejak lama di sentra-sentra kapitalisme dunia. Hal-hal yang menjadi sebab dari adegan terbaru ini sesungguhnya telah lama terjadi dan ia tidak terlepas sama sekali dari akibat diterapkannya Kapitalisme sebagai system ekonomi global.

Banyak pihak yang menyalahkan diterbitkannya subprime mortgage di AS sebagai penyebab kekacauan ekonomi ini. Ceritanya, karena semakin banyak para pemegang kredit perumahan tingkat kedua (subprime) yang tidak mampu membayar kewajibannya kepada Bank, maka Bank-bank penyedia kredit ini kemudian akan mengalami kerugian karena NPL (Non-Performing Loan—Kredit macet). Seiring dengan banyaknya kredit perumahan yang macet, semakin banyak rumah-rumah yang disita. Banyaknya rumah yang disita ini berakibat pada meningkatnya supply rumah, sementara demand tidak mengalami peningkatan. Dengan adanya perubahan ini menyebabkan harga rumah di AS menjadi murah, lebih murah daripada nilai kredit pembelian awalnya. Dengan adanya selisih antara harga pasar rumah dengan outstanding/baki debet (jumlah yang masih dihutang) akan menyebabkan lebih banyak orang yang lebih senang melepas rumahnya. Ia dapat dengan mudah membeli rumah dengan harga yang lebih murah (ketimbang harus melunasi hutangnya yang lebih mahal). Hal ini berlangsung secara massal, hingga pada Agustus 2007 terjadi krisis kredit perumahan “Subprime mortgage crisis” yang ditimbulkan dari semakin memburuknya portfolio perbankan internasional karena tingginya NPL di kredit perumahan AS.
Menjadikan Krisis Subprime Mortgage sebagai biang yang paling bersalah atas terjadinya krisis ini merupakan reduksi yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Data mengungkapkan kalau jumlah outstanding subprime di AS hanya USD 1,3 trilyun dengan jumlah NPL hanya 16% (per Maret 2007) atau hanya sekitar USD 208 milyar. Jumlah ini sangat tidak sebanding dengan berbagai injeksi, rekapitalisasi, dan jaminan dari berbagai pemerintah di dunia yang jumlahnya lebih dari USD 1 trilyun. Apalagi kalau melihat berbagai lembaga keuangan yang jatuh dalam krisis ini, seperti Lehman Brothers yang memiliki asset lebih dari USD 270 milyar.

Yang menarik adalah bahwa ternyata Subprime Mortgage ini tidak berdiri sendiri. Ada hal lain yang menjadi penyebab parahnya krisis ekonomi-finansial sekarang yang berdiri seirama dengan subprime mortgage.

Dalam dunia perbankan, istilah subprime digunakan untuk berbagai pihak yang sebenarnya tidak memiliki kelayakan untuk menerima kredit. Penyebab dari ketidak-layakan ini adalah antara lain: track record kredit yang bersangkutan, jumlah gaji bulanan yang terlalu kecil menurut standar normal, status pekerjaan yang tidak tetap, dll. Dengan kata lain, bank akan mengambil resiko yang sangat besar bila melakukan akad kredit dengan pihak-pihak seperti ini. Dan eksposur bank atas eksposur semacam ini akan melanggar prinsip kehati-hatian bank (prudent practice of banking).
Namun bank-bank di dunia Barat tetap kekeuh untuk memiliki portfolio yang berbahaya ini. Kenapa? Karena adanya adagium high risk-high return. Semakin tinggi resikonya, semakin besar keuntungan yang bisa diperoleh. Dan memang, secara aktual para debitur subprime ini dikenakan suku bunga yang lebih tinggi 1-2% dari suku bunga debitur prime.

High return inilah yang menjadi motivator utama para bankir di Wall Street, London, dll untuk mengambil resiko tinggi tersebut. Bagaimana dengan resiko-nya? Mereka muncul dengan istilah baru: Sekuritisasi.

Untuk menjaga resiko gagal bayar para debitur subprime ini, perbankan Barat memutuskan untuk mengeluarkan kontrak baru untuk mengamankan kredit beresiko ini. Dikenal dengan nama Credit Default Swap (CDS). Dengan CDS ini, perbankan Barat dapat mengamankan kredit subprime dengan menjual kontrak ke pihak ketiga. Bila terjadi kemacetan (default), maka pihak ketiga ini yang akan menjamin kredit tersebut. Perlu dicatat kalau pihak ketiga yang menjamin ini sama sekali tidak memiliki hubungan dengan pihak kreditur atau bahkan debitur. Karena tiadanya keterikatan ini, maka kontrak CDS ini dapat digunakan sebagai asset yang diperjual-belikan (Tradable Asset). Demikian aktifnya bank-bank di Barat dalam memperjual-belikan konrtak CDS ini, sampai-sampai banyak pihak yang tidak lagi mengetahui siapa kreditur dan debitur asli yang dimaksud dalam kontrak CDS ini (adanya kontrak CDS atas kontrak CDS).

CDS adalah produk derivative kredit yang paling banyak diperdagangkan. Bank for International Settlements melaporkan kalau jumlah jumlah transaksi over the counter (di bawah tangan) instrument ini mencapai $42,6 trilyun pada bulan Juni 2007, dari sebelumnya pada Desember 2006 sebesar $28,9 trilyun dan $13,9 triliun di Desember 2005. Pada akhir 2007 diperkirakan ada $45 triliun sampai $62,2 triliun nilai outstanding CDS di seluruh dunia.

Dengan kata lain, untuk mengamankan portfolio kredit senilai USD 1,3 trilyun, dikeluarkan dana hingga USD 62 trilyun untuk men-sekuritisasi-nya. (Catatan: Jumlah kontrak CDS untuk mengkover Subprime mortgage ini memang tidak sampai sebesar USD 62 trilyun, namun karena tidak-jelasnya untuk siapa kontrak CDS ini, maka secara potensial seluruh kontrak CDS ini terkait dengan subprime mortgage). Sekuritisasi ini juga sebenarnya hanya pengamanan kredit yang semu. Mustahil melakukan penjaminan hutang dengan meminjam ke pihak lain. Akan lebih bermakna kalau misalnya pihak penjamin ini memiliki keterkaitan yang jelas dengan pihak kreditur. Tanpa adanya keterkaitan ini, bahkan kreditur tidak mengetahui adanya penjaminan tersebut, maka sekuritisasi ini sesungguhnya adalah eksposur baru. Dengan kata lain, bukannya mengurangi eksposur resiko yang dipegang bank, sekuritisasi ini malah menambah eksposur tersebut.

Maka yang terjadi sekarang adalah ada surat hutang senilai USD 62 trilyun milik perbankan dunia yang tidak jelas statusnya. Hal inilah sesungguhnya yang menjadi penyebab krisis likuiditas perbankan dunia. Dan karena rumitnya jalinan antara satu kontrak CDS dengan kontrak CDS lainnya, maka masih perlu waktu yang cukup lama hingga akhirnya jelas berapa sesungguhnya dari USD 62 trilyun ini yang masih memiliki nilai, dan berapa yang sudah berubah menjadi surat hutang tak bernilai.

USD 62 trilyun bukanlah angka yang kecil. Sebagai gambaran, Jumlah GDP (Gross Domestik Product) seluruh dunia di tahun 2007 hanya USD 54 trilyun. Dengan bahasa yang lebih jujur, dunia menghabiskan uang yang lebih besar dari yang ia hasikan dalam satu tahun untuk pepesan kosong.

Dalam melihat kejadian adanya subprime mortgage dan derivative CDS ini, menjadi pertanyaan: apakah yang menyebabkan para bankir kelas dunia ini menjadi begitu gegabah? Jawabannya jelas, yaitu keuntungan.

Dalam dunia korporasi seperti sekarang, ada pemisah yang jelas antara peran manajemen dengan para pemegang saham. Untuk korporasi besar, biasanya manajemen bukanlah pemilik dari perusahaan itu. Tujuan dari manajemen adalah menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya agar pemegang saham dapat semakin kaya. Sebagai imbalan, manajemen akan memperoleh hadiah dalam bentuk bonus tahunan atau stock options (kepemilikan saham). Untuk perusahaan yang sahamnya diperjual-belikan di bursa efek, maka tidak ada bedanya stock option ini dengan bonus cash, karena manajemen dapat dengan cepat menjual saham hadiah tersebut ke pihak lain. Dengan demikian, untuk perusahaan-perusahaan besar yang sahamnya menjadi blue-chip (perusahaan yang sahamnya aktif diperdagangkan di lantai bursa) di bursa-bursa efek dunia, bonus bagi manajemen pada hakikatnya hanya satu, yaitu cash.

Sebenarnya ada maksud khusus dari diberikannya bonus berupa stock option ini bagi manajemen. Ia menjadi lebih istimewa karena bonus saham ini memberikan sense of belonging bagi manajemen. Diharapkan dengan adanya rasa memiliki ini, manajemen akan menjadi lebih berhati-hati dan lebih baik dalam mengelola perusahaan. Satu hal yang menjadi perhatian adalah rasa memiliki dari manajemen dalam keberlangsungan perusahaan (going concern).

Sebaliknya, bila manajemen tidak turut dilibatkan dalam kepemilikan perusahaan, maka banyak hal negatif yang terjadi. Manajemen akan melibatkan perusahaan ke dalam usaha resiko tinggi yang akan memberikan imbalan (return) yang lebih tinggi. Hal ini logis saja, karena bonus diberikan sebagai persen keuntungan tahunan perusahaan. Dan, di era di mana saham perusahaan menjadi pengganti uang kas, hal inilah yang banyak terjadi di perbankan barat.
Keputusan mereka untuk turut memiliki portfolio yang beresiko tinggi ini adalah karena mereka mementingkan keuntungan tahunan.

Mentalitas seperti inilah yang membawa lebih banyak uang beredar di pasar derivative yang memiliki resiko tinggi dengan underlying asset yang tidak jelas (dengan demikian mengancam keberlangsungan perusahaannya). Di dunia Barat, bila Bank (misalnya Deutsche Bank) memberikan fasilitas kredit ke perusahaan manufaktur besar (misalnya BMW) maka paling banyak return yang bisa ia peroleh hanya 1%. Bandingkan dengan return yang diperoleh di pasar derivative yang bisa mencapai 3-4%.

Celakanya, dunia kapitalisme global membutuhkan bursa saham untuk kapitalisasi asset mereka, sebagaimana mereka membutuhkan sumber-sumber investasi lainnya. Kapitalisasi saham di bursa Wall Street (NYSE) saja mencapai USD 25 triliun dengan jumlah transaksi hariannya mencapai ratusan miliar dollar. Dengan demikian, bahkan para pemegang saham korporasi-korporasi raksasa pun berkepentingan agar perusahaannya mendapatkan keuntungan yang besar, dengan harapan dapat memicu sentiment positif dan menjual saham yang ia miliki dengan harga premium.

Maka, dunia kapitalisme global sangat mengapresiasi jumlah keuntungan yang bisa diperoleh. Ia tak lagi terlalu khawatir dengan adanya resiko kehancuran perusahaan (kecuali kehancuran itu sangat dekat terjadinya), apalagi resiko kerusakan lingkungan, resiko de-stabilisasi sosial, dll. Para manajer investasi, bankir-bankir, dan eksekutif lainnya sesungguhnya telah menjalankan peran mereka dengan sangat baik (yaitu, meraih keuntungan sebesar-besarnya) sebagaimana diharapkan dalam pandangan dunia kapitalisme. Jadi, apa yang mau dikeluhkan?

Jelaslah kalau semua kejadian yang kita sebutkan sebagai krisis global ini sebenarnya adalah akibat yang lumrah dari system kapitalisme global. Suatu ideology yang mensyaratkan kekayaan sebagai sumber kebahagiaan, dan kekayaan tanpa batas untuk kebahagiaan yang ultima, ternyata hanya mendorong manusia menuju keserakahan dan akhirnya berujung kepada malapetaka juga. Maka, dunia yang semakin menyatu dan semakin kuat ketergantungannya ini membutuhkan sebuah system baru. Sistem ini haruslah menjamin kebahagiaan manusia secara keseluruhan berdasarkan keadilan bersama, bukan pengumpulan modal di segelintir orang ala kapitalisme ini, atau pembagian kapital yang menafikan perbedaan usaha antar individu ala komunisme. Dunia kini membutuhkan sebuah alternatif dari kapitalisme (dan juga komuisme), yang sama sekali berbeda darinya dan bukan sekedar tambal sulam dari ideologi yang suram dan mematikan ini. Dengan demikian, dunia kini membutuhkan sebuah sistem yang adil, universal, dan holistik.

Advertisements

One Response to “Krisis Finansial Global, Babak akhir Kapitalisme?”

  1. Di babak akhir kapitalisme ini kita dituntut untuk mengembalikan kepercayaan kita kepada Tuhan dan ajaranNya. Perekonomian menurut ajaran Tuhan adalah yang berasal dari Tuhan dan diperuntukkan bagi distribusi rakyat sehingga “mengalir” dari kaum kaya kepada rakyat miskin. Sistem yang mengatur aliran perekonomian ini yang sekarang hilang digantikan oleh sistem yang mengikat dengan faham materialisme kapitalisme. Tanah menjadi tidak bertuah di zaman kalabendu. Lain halnya jika semua ajaran dan perilaku sudah dikembalikan dan dipasrahkan kepada kehendak Tuhan, tanah akan kembali bertuah. Pendistribusian harta benda dari yang kaya kepada yang miskin akan membawa kemakmuran, dan penderitaan akan berkurang. Mari kita kembalikan kepercayaan kita kepada ajaran Tuhan, serta mendistribusikan kekayaan dari yang kaya kepada yang miskin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: