<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Messianic Promise</title>
	<atom:link href="http://damartriadi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://damartriadi.wordpress.com</link>
	<description>See where does civilization end...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 18 May 2009 02:34:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='damartriadi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Messianic Promise</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://damartriadi.wordpress.com/osd.xml" title="Messianic Promise" />
	<atom:link rel='hub' href='http://damartriadi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lagi-lagi, krisis global&#8230;.cape deh&#8230;.</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2009/05/18/lagi-lagi-krisis-global-cape-deh/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2009/05/18/lagi-lagi-krisis-global-cape-deh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 02:34:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[KOMPAS.com — Memiliki mobil atau rumah tidak selamanya harus dengan uang tunai, tetapi bisa dengan mencicil. Bahkan tidak sedikit orang yang memiliki televisi karena mencicil. Jangan kecil hati, kebiasaan mencicil sudah berlangsung sejak lama di dunia dengan mengandalkan pembayaran dari gaji tetap. Hanya orang mapan dan superkaya yang bisa membeli segala kebutuhan dengan uang tunai. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=139&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">
<p><strong>KOMPAS.com </strong>— <strong>Memiliki </strong>mobil atau rumah tidak selamanya harus dengan uang tunai, tetapi bisa dengan mencicil. Bahkan tidak sedikit orang yang memiliki televisi karena mencicil. Jangan kecil hati, kebiasaan mencicil sudah berlangsung sejak lama di dunia dengan mengandalkan pembayaran dari gaji tetap.</p>
<p>Hanya orang mapan dan superkaya yang bisa membeli segala kebutuhan dengan uang tunai. Namun sayangnya, seperti ditunjukkan dari hasil penelitian Gemini Capital dan Merrill Lynch setiap tahun, kekayaan di dunia ini tidak terbagi rata di antara tujuh miliar penduduk dunia. Bahkan, ketidakmerataan itu begitu timpang.</p>
<p>Hampir semua, tentu sebagian macet, kegiatan mencicil seperti itu berjalan lancar. Tidak terdengar kebangkrutan massal perusahaan keuangan secara global sejak 1930-an. Ada sejumlah kasus kehancuran sistem keuangan di beberapa negara dalam beberapa dekade terakhir, namun tidak sampai memberi efek domino kebangkrutan massal seperti sekarang.</p>
<p>Bukti lain,  Presiden Bank Dunia Robert Zoellick dan Direktur Pelaksana IMF Dominique Strauss-Kahn mengatakan, tak pernah ada pertumbuhan ekonomi dunia yang negatif sejak Depresi Besar 1929. Artinya, kegiatan pinjam-meminjam relatif lancar saja.</p>
<p>Paul Krugman dan Joseph E Stiglitz, dua ekonom AS peraih Nobel Ekonomi, mengatakan, ada regulasi yang membuat bank-bank dan lembaga keuangan memberi kredit dengan rambu-rambu yang aman. Jika sebagian kredit yang dikucurkan macet, ada perusahaan asuransi yang menjamin kemacetan itu, atau bank itu sendiri punya cadangan untuk mengompensasi kredit macet.</p>
<p>Jika bank-bank itu bangkrut sekalian, ada perusahaan yang menjamin deposito nasabah, seperti Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) di AS dan juga di Indonesia.</p>
<p>Dengan sistem seperti itu, konsumen, nasabah, dan perbankan sama-sama merasa aman dengan kegiatan saling meminjamkan, termasuk kegiatan meminjamkan ke perusahaan. Dari proses pinjam-meminjam ini terjadilah permintaan, yang menjadi inti pendorong aktivitas perekonomian. Bahkan perbankan bersedia memberi kartu kredit kepada miliaran penduduk dunia, yang semakin mendorong permintaan dan kemampuan berbelanja.</p>
<p><span id="more-139"></span></p>
<p>Sekarang kegiatan seperti itu terganggu untuk sementara kecuali untuk konsumen dan perusahaan yang benar-benar dianggap aman. Konsumen tidak dipercaya, atau tidak memiliki daya beli sebagian karena sudah di-PHK. Banyak bank tidak punya dana, bahkan sudah bangkrut dan ini terjadi pada bank-bank kaliber dunia bernama besar seperti UBS, Citigroup, ABN-AMRO yang sudah almarhum dan lainnya. Jika ada bank yang punya dana, ada keraguan mengucurkannya.</p>
<p>Hal ini mengganggu transaksi ekonomi, yang intinya mengganggu proses permintaan dan penawaran. Anjloknya permintaan membuyarkan penjualan mobil buatan GM, Fords, Toyota, Honda dan lainnya. Hampir semua kategori produk kini mengalami penurunan penjualan, apalagi barang-barang luks. Sebagian kartu kredit pun kini sudah sekadar kartu yang tak berdaya beli lagi.</p>
<p><strong>Hancurnya kepercayaan</strong></p>
<p>Mengapa? Orang terkaya nomor dua di dunia dan jago investasi, Warren Buffet mengatakan kepercayaan adalah bagian dari sistem. Dan sistem tidak akan bekerja dan tanpa adanya kepercayaan. Buffet menambahkan, ketiadaan kepercayaan itu contagious, menular dan menyebar ke seluruh sektor dengan daya rusak yang besar.</p>
<p>Bukan hanya konsumen yang tak dipercaya, bukan hanya bank yang diragukan keamanannya. Penurunan penjualan membuat sejumlah perusahaan  yang menjual saham, dan obligasi di bursa, mengalami penurunan harga-harga saham dan obligasi.</p>
<p>Investor  di bursa tidak lagi terlalu percaya membeli saham dari perusahaan kaliber dunia sekalipun karena persepsi akan terjadi kebangkrutan. Berjatuhanlah indeks-indeks saham..</p>
<p>Tetap ada kegiatan di bursa hingga sekarang, namun pelakunya bukan lagi investor konservatif tetapi investor spekulatif yang ternyata bisa tetap meraih untung dari krisis.</p>
<p>Mengapa keadaan sekacau itu? Kegiatan <em>shadowy banking</em>, “bank-bank gelap”, merajalela dalam 25 tahun terakhir. Michael Hiltzik, kolumnis di harian AS, The Los Angeles Times pada 12 Maret, menuliskan terjadi cerita horor dalam sistem keuangan.</p>
<p>Walau dikatakan bank-bank gelap, tetapi perusahaannya tidak gelap. Lehman Brothers adalah perusahaan resmi di AS berusia di atas 150 tahun namun berperan liar layaknya bank-bank gelap. Lehman Brothers, yang pernah menjadi konsultan Indonesia di masa krisis tahun 1998 lalu, antara lain memanfaatkan aliran dana murah dari Asia, dan dari sejumlah negara kaya di dunia (SWF)  yang masuk ke AS.</p>
<p>“Bank-bank” gelap yang tidak diatur negara ini mengalirkan dana ke konsumen, perusahaan di luar kemampuan daya bayar di kemudian hari. Pemerintahan AS di bawah George W Bush tidak berminat mengatur aktivitas perusahaan seperti ini walau sudah diperingatkan akan ada potensi bahaya.</p>
<p>Bukan hanya Lehman Brothers yang terlibat kegiatan seperti ini tetapi sejumlah bank dan perusahaan besar dan resmi lainnya di AS, Inggris, Jerman, Swiss dan banyak lagi bank lainnya.  Bank-bank global tidak melakukan kegiatan liar ini secara langsung namun melakukannya lewat anak perusahaan yang bukan bernama bank.</p>
<p>Bahkan AIG, perusahaan asuransi terbesar dunia asal AS pun sudah mirip spekulan, bahkan bukan lagi sekadar bank gelap, sebagaimana dikatakan Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke.</p>
<p>Kegiatan bank-bank gelap ini, menurut Paul Krugman lebih besar dari kegiatan bank-bank konvensional dengan omset perputaran uang sekitar 10 triliun dollar AS. Ini adalah jumlah yang dahsyat.</p>
<p>Mereka menggantikan peran utama bank konvensional, dan menjadi saluran utama untuk proses pinjaman meminjam di AS.</p>
<p>Semakin banyak kredit bisa dikucurkan, semakin banyak pula bonus didapat para karyawan. Tidak perduli apakah kredit itu bisa dikembalikan kemudian hari. Bonus tidak didasarkan pada kinerja keuangan perusahaan tetapi kemampuan menyalurkan kredit.</p>
<p>Bank-bank gelap ini pun berperan menjual dan menjamin obligasi yang diterbitkan berbagai perusahaan resmi untuk keperluan modal. Di sisi lain banyak investor yang tergiur membeli obligasi yang ditawarkan dan dijamin bank-bank gelap ini. Siapa yang tidak percaya dengan jaminan Lehman Brothers, yang juga didukung dengan peringkat AAA yang diberikan Standard &amp; Poor’s, lembaga pemeringkat terkenal itu</p>
<p>Lebih jauh lagi, bermunculan produk-produk keuangan, yang dinamakan produk-produk derivatif. Produk ini dikatakan sebagai hasil inovasi keuangan, dan ditawarkan sebagai sarana  berinvestasi bagi para warga kaya di dunia.</p>
<p>Media di AS menjulukinya bukan inovasi tetapi corporate greed, kerakusan korporasi.</p>
<p>Lewat produk-produk derivatif ini, bank-bank gelap menjual surat berharga. Di Indonesia hal juga beredar, yakni surat berharga terbitan Lehman Brothers yang dijual lewat Citibank Indonesia. Hasilnya, miliaran dana warga kaya Indonesia lenyap lewat Citibank itu.</p>
<p>Salah satu contoh kecerobohan bank-bank gelap itu, sekitar 1,2 juta warga di AS misalnya bisa dapat rumah seharga rata-rata 120.000 dollar AS dari kredit, yang tidak didukung pendapatan untuk mencicil kemudian hari.</p>
<p>Ini dimungkinkan karena ada aliran dana berlimpah masuk, ditambah ketertarikan para investor, termasuk perusahaan dana pensiunan resmi milik negara, dari Singapura, Norwegia, Timur Tengah, Rusia, yang tegiur dengan iming-iming untung besar dari sektor perumahan AS, dan permainan spekulatif di bursa.</p>
<p>Sebagaimana dikatakan mantan Gubernur Bank Sentral AS, Alan Greenspan, dekade 2000-an, Asia yang kaya devisa menjadi sumber pendanaan ekonomi AS.</p>
<p>Masalah terjadi bukan hanya karena kucuran kredit berlebihan tanpa rambu-rambu pengaman dari lembaga keuangan itu.</p>
<p>Bank-bank gelap itu juga turut serta berspekulasi di bursa uang dan modal dan menurut Benk Bernanke berperan sepeti “Hedge Fund”, konotasi untuk penjudi kerah putih.</p>
<p>Aliran dana-dana itu juga dimainkan di bursa. Salah satu yang terkenal adalah dengan mengerek harga komoditas menjadi tinggi seperti harga kedelai, minyak, dan lainnya di bursa komoditas, sebagaimana pernah dikatakan Steve Forbes, pemilik majalah Forbes. Masih ingatkan kenaikan harga-harga komoditas mendadak di akhir 2007 hingga awal 2008?</p>
<p>Lalu setelah harga tinggi, si pemain menjual komoditas miliknya, dan meraih untung tinggi. Kerusakan lain terjadi, warga di dunia dipaksa membeli harga pangan tinggi.</p>
<p><strong>Meraih untung tanpa keringat</strong></p>
<p>Inti persoalan, para eksekutif keuangan, terutama Wall Street, telah meraup keuntungan dari aliran dana masuk ke AS, tidak dengan mengandalkan keuntungan perusahaan, tetapi dengan menelan dana itu sendiri dengan mengorbankan para nasabahnya, termasuk para pemberi pinjaman.</p>
<p>CEO JP Morgan Chase, Jamie Dimon, di New York, pekan ini mengakui perilaku seperti telah mengacaukan sistem keuangan.</p>
<p>CEO HSBC Stephen Green juga mengakui, kekacauan pada perilaku dan etika sistem perbankan telah menjadi sumber kekacauan.</p>
<p>Berapa banyak dana yang lenyap karena kekacauan seperti itu? Hiltzik mengatakan sekitar 1,2 triliun dollar AS lenyap di perumahan AS yang tak laku terjual.</p>
<p>Krugman mengatakan ada 10 triliun dollar AS dana-dana yang diputar di bank-bank gelap. Dana itu tidak ketahuan lagi juntrungannya, dan enah dimana berada. Hal yang pasti, dalam jajaran warga terkaya di AS, pada umumnya adalah jago-gajo teknologi informasi dan “hedge fund”.</p>
<p>Jika dunia telah kehilangan 10 triliun dollar AS dana, bayangkan apa yang terjadi untuk dunia dengan besaran produksi domestik bruto (PDB) 60 triliun dollar AS?</p>
<p>Lalu bagaimana memulihkan ekonomi dunia. Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke, mengatakan, ekonomi tak pulih jika sistem keuangan kacau. Sistem keuangan yang kacau tidak akan bisa menjadi lembaga intermediasi sebagaimana layaknya.</p>
<p>Bagaimana memulihkan sistem keuangan? Hal ini hanya bisa terjadi jika ada investor yang mau membeli bank-bank dengan segala toxic assets, aset-aset beracun.</p>
<p>Seperti kata Buffet, kepercayaan yang hilang telah membuat investor kaya menghindar membeli bank-bank atau lembaga keuangan rusak. Buffet sendiri, yang nomor dua terkaya dunia pun, tidak mau dan bahkan tidak mampu membeli aset-aset rusak itu.</p>
<p>Jika aset rusak ini tidak dibeli investor, maka stimulus ekonomi yang diluncurkan berbagai negara tidak akan mampu menyelamatkan ekonomi. Jumlah stimulus di dunia sekarang ini hanya sekitar 3,5 triliun dollar AS, itu pun jika benar ada.</p>
<p>Jumlah uang lenyap akibat kekacauan di bursa sebagai buntut lain kekacauan yang dihasilkan dari perilaku buruk eksekutif di Wall Street sekitar 50 triliun dollar AS. Ini adalah data dari Bank Pembangunan Asia. Ini termasuk nilai kekayaan dunia yang lenyap akibat kejatuhan indeks-indeks di bursa global, bukan saja di AS.</p>
<p>CEO Blackstone Group LP Stephen Schwarzman, Selasa (10/3) di New York, mengatakan, sekitar 45 persen kekayaan dunia rusak akibat krisis kredit global.</p>
<p>Lalu kapan krisis akan selesai. “Kita tidak tahu pasti. Saya mengharapkan kita semua mendapatkan keberuntungan,” kata Krugman di National Press Club, Washington, Desember 2008 lalu. Ini adalah pernyataan yang merefleksikan dalamnya persoalan, yang tidak bisa diprediksi kapan dan bagaimana menyelesaikannya.</p>
<p style="text-align:left;">oleh <strong>Simon Saragih di Kompas.com<br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/139/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/139/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/139/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=139&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2009/05/18/lagi-lagi-krisis-global-cape-deh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sapta dan Karna pergi ke pasar</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/28/sapta-dan-karna-pergi-ke-pasar/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/28/sapta-dan-karna-pergi-ke-pasar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 21:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Tersebutlah Karna dan Sapta sedang berbelanja ke pasar Sukamantri….ceritanya mereka berencana membeli kebutuhan sehari-hari mereka: Ember, Sikat gigi, dan rencananya mau pesan pupuk pesanan Pak Endang bosnya KUD. Karna : Wah…kok pasar agak sepi ya? Sapta : Iya, padahal kan sekarang mustinya banyak yang belanja….da musim panen kan baru kemaren. Penasaran, mereka pun bertanya ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=133&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Tersebutlah Karna dan Sapta sedang berbelanja ke pasar Sukamantri….ceritanya mereka berencana membeli kebutuhan sehari-hari mereka: Ember, Sikat gigi, dan rencananya mau pesan pupuk pesanan Pak Endang bosnya KUD.</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Wah…kok pasar agak sepi ya?</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Iya, padahal kan sekarang mustinya banyak yang belanja….da musim panen kan baru kemaren.</p>
<p class="MsoNormal">Penasaran, mereka pun bertanya ke Hansip yang sedang duduk melamun sambil melintir-lintirkan sebatang kretek buatan Kediri.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Pak, punten. Tumben ieu….meni sepi pisan….kenapa ya kok begini?</p>
<p class="MsoNormal">Hansip : Iya cep….orang-orang pada males beli-beli nih.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Naha kitu pak?</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-133"></span></p>
<p class="MsoNormal">Hansip : &#8220;Harga-harga pada naek cep. Abdi ge bingung nih….masak harga beras naek terus…&#8221; Katanya menerawang</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Nya geus lah…kita ke tokonya Mang Kokon ajah…rek meuli ember…</p>
<p class="MsoNormal">Sejenak kemudian, tibalah mereka di depan tokonya mang Kokon. Seperti toko lainnya, yang ada di situ cuman Mang Kokon yang sedang asyik nonton acara gossip, ceritanya artis Jipe diisukan berselingkuh dengan lawan mainnya Ryan Edun.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : assalamunalaikum mang Kokon….</p>
<p class="MsoNormal">Sedikit terkaget, Mang Kokon mengalihkan pandangannya dari layar TV ke arah dua anak muda aktivis LKMD ini. “Eh, Sapta, Karna…wa’alaikum salam, tumben kok nyampenya rada telat nih?”</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Iya Mang, susah nyegat angkotnya…katanya pada mogok yah mrotes kebijakan nurunin tariff</p>
<p class="MsoNormal">MK : Oh gitu…sok atuh ada yang bisa dibantu?</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Iya Mang, mau beli ember nih. Nyai mesen buat nyuci baju, yang lama dah bocor</p>
<p class="MsoNormal">MK : Oh iya, sok atuh dipilih yang mana..</p>
<p class="MsoNormal">Tidak perlu waktu lama Sapta segera membawa ember yang dipilihnya, ember plastic warna merah buatan Sidoarjo Jawa Timur.</p>
<p class="MsoNormal">MK : Yang ini….13 rebu ajah</p>
<p class="MsoNormal">Sapta terkejut : Lah mahal pisan…minggu lalu saya beli yang kayak begini persis buat Aa Andi cuman 10 rebu?</p>
<p class="MsoNormal">MK : Duh si cecep nih, kumaha sih teu ngartieun….sekarang kan udah musim krisis global. Gak nonton TV gitu? Sekarang mah Dollar udah 12 rebu, baheula kan cuman 9 rebu. Ya naek atuh.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta mengerinyitkan keningnya. Emang apa hubungannya Dolar sama harga ember buatan Jawa Timur? Emangnya orang di sana pake uang Dolar? Terus krisis? Bukannya sekarang abis panen raya, harga beras juga bagus tuh, apalagi esbeye baru aja nurunin harga bebe’em, sampe dua kali lagi!</p>
<p class="MsoNormal">Dengan setengah berat hati setengah tawakal, Sapta mengeluarkan uang duapuluh ribuan dari dompetnya. Tadinya ia berniat membayar pake uang sepuluhribuan, kan agak asik di dompet kesimpen uang duapuluhan sama limapuluhan.</p>
<p class="MsoNormal">Misi pertama selesai, entah kenapa Mang Kokon tidak menjual sikat gigi…katanya melanggar tradisi turun temurun leluhurnya. Whateper lah..</p>
<p class="MsoNormal">Di toko sebelah dijual sikat gigi, toko milik pendatang dari Sumatera Barat sana punya Uni Santi. Tapi toko itu tidak buka, katanya sih ia pulang kampong karena menurut cerita dari ahli-ahli geologi di Jerman sana daerahnya terancam kena Tsunami seperti tsunami Aceh yg dulu. Uni Santi sama suaminya disuruh pulang sama ibunya karena rasa terancam itu.</p>
<p class="MsoNormal">Karena Karna males keliling lebih jauh lagi, diputuskan untuk langsung ke agen pupuk “bersubsidi” di pojok paling belakang sana. Kata Karna, mereka sudah kesiangan soalnya nanti abis zuhur mau ada rapat program kerja LKMD buat bersihin MCK warga. Kata Karna lagi, nanti beli sikat giginya di Alp***art deket balai desa aja.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta punya saudara di Cianjur yang terpaksa nganggur dan jadi tukang ojek, gara-garanya toko kelontong punya dia bangkrut gara-gara persis di sebelah tokonya ada Alp***art yang dibuka. Jadinya sebenernya Sapta rada enggan untuk berbelanja ke toko yg buat saudaranya bangkrut itu.</p>
<p class="MsoNormal">Akhirnya mereka tiba di agen pupuk itu. Betapa terkejutnya mereka menemui kalau agen pupuk tersebut terkunci. Di pintunya tertempel pengumuman : “Kantor tutup, pupuk habis”</p>
<p class="MsoNormal">Di depannya sedang berdiri jeger pasar, Jack, sambil bermain-main hape. Agak ragu, Karna mengajukan diri bertanya ke sang jeger ini : Punten kang, agen ini kok tutup yah?</p>
<p class="MsoNormal">Sambil terus memencet tuts di hape 3G-nya, Jack berkata agak ketus: Teuing, katanya so bos pupuknya belum dateng dari kabupaten. Si bos lagi pergi tuh, ke rumah mahmud (mamah muda)-nya kali.</p>
<p class="MsoNormal">Sambil menahan kecewa, mereka pergi. Sambil berjalan ke depan pasar, mereka melihat ada kios mentereng yang baru buka. Terpampang papan nama kios itu: “Sumber Murni, distributor Pupuk bermerk.” Wah kebetulan, pikir mereka, minggu lalu kan kios ini masih kosong. Coba cek dulu lah, siapa tau bisa beli keperluan KUD ke sini.</p>
<p class="MsoNormal">Seorang wanita muda menyambut mereka. Dari tampangnya tampak kalau ia bukan berasal dari daerah sini. “Halo mas..silahkan ada yang bisa dibantu?” dan dari logatnya juga tampak kalau ia seorang dari kota besar.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta “Iya bu, kita mau beli pupuk. Tapi pesen dulu, diambilnya mungkin minggu depan.”</p>
<p class="MsoNormal">“Pupuk ini?” sambil menunjukkan ke arah sebuah sak pupuk dengan tulisan “Made in Thailand”</p>
<p class="MsoNormal">Sapta: Iya bu, kita perlu lima sak aja</p>
<p class="MsoNormal">Ibu : Ok, buat pesen ya? Pake de-pe ya…</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : De-pe?</p>
<p class="MsoNormal">Ibu : Iya, down peymen..uang muka</p>
<p class="MsoNormal">Sapta, sedikit kesal karena dikira gak tau DP itu apa : Iya bu….de pe..Biasanya kalo di agen gak perlu, cuman nyerahin surat dari KUD sama pak kades aja.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu : “Wah, gak bisa mas. Gak pake surat-suratan di sini mah. Pakenya surat dari pak Burhanuddin Abdullah.” Sambil mengesek-gesekkan jempolnya dengan jari tengahnya, symbol nasional dari uang.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Surat pak burhanuddin siapa?</p>
<p class="MsoNormal">Ibu : Maksudnya uang mas….</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Wah, belum bawa sih ibu…cuman bawanya lima puluh tiga ribu aja, itu juga masih belum buat bayar angkot.</p>
<p class="MsoNormal">Ibu : Gak dapet mas segitu. Kalo de-pe tuh minimal dua puluh persen. Mas kan butuh lima sak, satu sak seratus dua puluh ribu rupiah, jadinya semuanya enam ratus ribu rupiah. Jadi de-penya musti seratus dua puluh ribu rupiah.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : yah, gak bisa ya bu?</p>
<p class="MsoNormal">Ibu : Gak bisa mas, punten atuh ya…</p>
<p class="MsoNormal">Misi gagal. Dari tiga barang yang mau dibeli, hanya satu yang dapet, itupun dengan harga yang lebih tinggi. Dengan lemas mereka kemudian naik ke angkot, cuman membawa sebuah ember.</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Edun yeuh…pupuk mahal pisan. Kalo dari agen pupuk mah gak segitu</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Iya, kalo harga segitu mah bisa dapet delapan sak, bukan lima</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Kenapa gitu yah?</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Teu terang abdi. Emang udah lama sih pupuk dari agen langka. Dulu mah bisa langsung beli dan bawa. Terus mulai musti pake pesen dulu, bisa seminggu ato dua minggu, pernah sampe sebulan belum dapet. Sekarang malah tutup. Si bos malah pake kawin lagi. Aya-aya wae!</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Kata Mang Hadi, di kampungnya juga ada agen yang jual pupuk buatan luar. Dia dah lama kepaksa beli pupuk yang begituan. Katanya harganya 4 rebuan lah sekilo.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Lah, lebih murah di sana dong. Kalo tadi kan diitung-itung sekilonya 6 rebuan</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Iya, tapi kan sebulan yang lalu dia beli.</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Pupuknya sama?<br />
Karna : Iya, ada tulisan “made in Thailand” nya juga kok</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Artinya harganya naek juga dong, sama kayak ember ini</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Kenapa gitu yah?<br />
Sapta : Mungkin karena dolar naek kali</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Emang di Thailand pake dolar ya?<br />
Sapta : Iya……eh gak….uang mereka apa gitu, ringgit atau Bet…</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Jadi bukan dolar dong?</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Bukan jang, dolar mah uang di Amerikah</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Terus kenapa kok harga ember juga naek karena dolar, bukannya dibuatnya di Jawa Timur, nih ada tulisan di merk embernya “Produksi Sidoarjo Jawa Timur”</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Iya ya, abdi ge bingung nih. Pupuk dibuatnya di Thailand…ember dibuatnya di Jawa Timur…harganya naek gara-gara dolar naek…</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Atau mungkin karena belinya di Amerika kali?</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Ngaco kamu…jadi dari Thailand dibawa dulu ke Amerika, terus dibeli lagi sama Indonesia…Emang Thailand lebih deket ke Amerika apa? Lulus SD gak sih? Terus Sidoarjo ke Amerika juga? Gelo apa?</p>
<p class="MsoNormal">Karna : Oh iya yah….lieur euy…jadi apa dong hubungannya harga ember dan pupuk sama Dolar?</p>
<p class="MsoNormal">Sapta : Abdi ge teu terang jang….</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=133&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/28/sapta-dan-karna-pergi-ke-pasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekuritisasi Aset</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/sekuritisasi-aset/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/sekuritisasi-aset/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 17:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Sekuritisasi Aset berarti mengamankan asset dari resiko yang mungkin akan membahayakan asset itu. Credit Default Swap (CDS) adalah sejenis sekuritisasi asset yang dikenakan atas asset kredit beresiko tinggi (subprime). Ia menjadi salah satu tertuduh dari kolapsnya beberapa bank besar di Negara-negara maju dalam krisis financial 2008 yang dimulai dari memburuknya kolektibilitas Subprime Mortgage AS di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=115&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0     false false false  EN-US X-NONE X-NONE              MicrosoftInternetExplorer4              &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;                                                                                                                                            &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><strong></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sekuritisasi Aset berarti mengamankan asset dari resiko yang mungkin akan membahayakan asset itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Credit Default Swap (CDS) adalah sejenis sekuritisasi asset yang dikenakan atas asset kredit beresiko tinggi (subprime). Ia menjadi salah satu tertuduh dari kolapsnya beberapa bank besar di Negara-negara maju dalam krisis financial 2008 yang dimulai dari memburuknya kolektibilitas Subprime Mortgage AS di Semester II 2007.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-115"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sejatinya, Subprime Mortgage adalah asset yang beresiko tinggi. Debitur atas asset ini adalah kaum miskin yang tidak memiliki pekerjaan tetap, part time job di tiga tempat berbeda dengan penghasilan yang tidak menentu, single parent, dll. Resiko tinggi ini ditanggung bank dengan imbalan return yang tinggi (high risk-high return). Namun sesuai peraturan perbankan, resiko tinggi akan berdampak pada keharusan Bank mencadangkan pendapatannya dalam porsi yang cukup besar, sehingga high return ini akan dihapuskan oleh besarnya kewajiban pencadangan ini. Dengan demikian, asset ini bukannya meningkatkan profitabilitas Bank, malahan menjadi biaya tambahan karena besarnya pencadangan tersebut. Tidak ada manajemen bank yang tertarik oleh karenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Secara logis, mengingat subprime ini adalah kepentingan masyarakat, maka seharusnya pemerintah atau badan yang lebih tinggi memperkenalkan instrument-instrumen keuangan agar resiko yang tinggi dapat dielakkan, sehingga bank yang memiliki asset ini tidak akan mengalami kerugian. Namun yang terjadi di AS bukanlah demikian. Malahan perbankan sana menerbitkan instrument sekuritisasi ini melalui CDS.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Premis awal yang diusung adalah, bahwa CDS bisa mensekuritisasi (mengamankan) asset. Bank yang memiliki asset kredit subprime bisa meminimalisir pencadangannya bila ia menerbitkan CDS dengan pihak ketiga, dan bila terjadi default maka ia tidak akan mengalami kerugian karena pihak ketiga-lah yang akan mengganti kerugiannya sesuai skema CDS. Ia menjadi bentuk lain, atau semacam asuransi. Bila pihak ketiga memiliki kemampuan untuk menggantikan default asset kredit ini, maka CDS tidak akan menjadi masalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pertanyaannya, apakah CDS ini layak dijadikan sekuritisasi asset?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Transaksi Kredit adalah perjanjian peminjaman uang dari satu pihak ke pihak yang lain. Pihak pertama yang disebut kreditur berjanji untuk meminjamkan dana yang ada dalam kepemilikannya kepada pihak kedua yang disebut debitur. Peminjaman ini disertai beberapa syarat yang diajukan oleh kreditur kepada debitur, biasanya mencakup berapa jangka waktu peminjamannya, peruntukan dana ini untuk apa, hal-hal apa yang harus, boleh dan dilarang dilakukan debitur selama dana masih dipinjam. Salah satu persyaratan yang diminta oleh kreditur untuk dipenuhi debitur adalah penyerahan jaminan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko yang dihadapi kreditur apabila suatu saat nanti debitur memutuskan untuk menggagalkan kewajibannya ke kreditur. Bertentangan dengan apa yang dikira banyak orang, jaminan digunakan lebih kepada menjaga “kemauan” dan bukan pada “kemampuan” kreditur untuk memenuhi kewajibannya pada kreditur. Artinya, ada sisi penjagaan moral dalam permintaan jaminan yang dilakukan kreditur kepada debitur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sekarang, apa yang dilakukan bila asset kredit dilepaskan pada debitur yang beresiko tinggi. Resiko di sini lebih kepada “kemampuan” daripada “kemauan” debitur dalam membayar kembali. Secara normal, tentunya kreditur akan memikirkan kembali untuk tidak memberikan kredit ke debitur yang semacam ini, karena asset semacam ini hanya akan memberikan kerugian bagi kreditur bagaimana pun jaminan yang dimintakan dari debitur itu. Namun di kondisi selain normal, perlu ada hal lain yang dilakukan untuk menutupi kemungkinan kerugian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebagaimana dijelaskan di awal, subprime mortgage adalah kredit perumahan yang diberikan kepada warga miskin atau orang-orang yang memiliki rating “subprime” dalam kredit. Bila diserahkan kepada orang yang menggunakan kredit itu untuk membeli rumah pertama mereka, maka faktor “kemauan” untuk memenuhi kewajiban pada kreditur bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan. Namun bila kredit ini diserahkan kepada debitur yang membeli rumah untuk “investasi”, maka “kemauan” menjadi tanda tanya. Fakta bahwa kredit diserahkan kepada pihak yang memiliki rating rendah juga menyebabkan faktor “kemampuan” debitur menjadi tanda tanya. Dengan adanya tanda tanya di faktor “kemampuan” dan “kemauan”, asset kredit subprime benar-benar merupakan asset yang “subprime” kalau tidak mau dibilang “junk”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lalu, untuk mensiasatinya, bank beralih ke CDS untuk mensekuritisasi asset “junk” ini. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di sini. Dari sisi perjanjian, terlihat bahwa bank mengeluarkan kontrak dengan pihak ketiga untuk menjamin kerugian yang akan dialami bank atas asetnya. Dengan demikian, pihak ketiga berperan sebagai semacam insurance sekiranya ada default. Pihak ketiga menikmati masuknya dana selama kredit yang diswap belum default. Dengan demikian, karena biasanya pihak ketiga ini juga lembaga keuangan yang besar, baik dari sisi “kemauan” dan “kemampuan” pihak ketiga dapat dipastikan. Bank akan dapat mensekuritasasi assetnya, dari sebelumnya ”junk’ yang harus dicadangkan dalam jumlah besar menjadi asset yang baik dengan rating baik (tergantung pihak ketiga yang menjadi penjaminnya) sehingga profitabilitas bank menjadi baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kemudian perhatian dalam cerita beralih ke si pihak ketiga. Siapakah pihak ketiga ini? Ia tidak lain adalah bank atau lembaga keuangan juga. Sebagai sebuah badan usaha, ia juga memiliki kepentingan untuk mendapatkan keuntungan. Kalau sekiranya CDS berhenti di pihak ketiga ini, maka lembaga keuangan ini akan diharuskan mencadangkan dana yang besar, sejumlah eksposurnya atas CDS itu. Hal ini diharuskan karena resiko default kini berubah menjadi resiko si pihak ketiga ini. Dengan demikian, lembaga keuangan itu yang pada gilirannya terancam merugi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Apa yang kemudian terjadi? Untuk menghindari kerugian, dan membuat ancaman menjadi sumber keuntungan, lembaga keuangan ini kemudian menerbitkan CDS atau instrument derivative lain yang kemudian dijual ke pihak lainnya (pihak keempat) dengan skema perjanjian yang mirip. Pihak keempat selanjutnya melakukan hal yang sama dengan pihak kelima, pihak kelima dengan pihak keenam, dan seterusnya. Rantai akibat melepaskan beban resiko ini demikian panjang sehingga nilai transaksi CDS mencapai sekitar 60 trilyun Dollar, atau lebih besar 40 kali daripada nilai kredit Subprime Mortgage yang outstanding.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ada</span>dua hal yang perlu diperhatikan dalam kondisi ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pertama, perjanjian kredit yang didalamnya ada pertukaran resiko antara pihak kreditur dan pihak debitur sudah tidak memiliki makna dalam CDS-CDS selanjutnya. Pihak kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya hanya mengetahui ia berhadapan dengan lembaga keuangan yang ia bertransaksi langsung dengannya. Dengan kata lain, pihak kelima hanya mengetahui ia membeli CDS dari pihak keempat, pihak ketujuh hanya mengetahui kalau ia membeli dari pihak keenam, dst. Padahal, CDS tidak terkait pada kemampuan lembaga keuangan yang mengeluarkannya, betapa pun besarnya ia, namun kepada kualitas asset kredit aslinya. Dengan kata lain, pihak keenam dan ketujuh sebenarnya telah membeli kontrak swap yang beresiko tinggi. CDS hanyalah kartu domino yang pemicunya adalah kualitas asset subprime mortgage.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kedua, kepentingan jaminan sebagai alat untuk menjaga “kemauan” debitur tidak memiliki korelasi dengan dikeluarkannya CDS ini, apalagi “kemampuan” debitur. Karena toh pihak ketiga tidak memiliki korelasi apapun terhadap debitur. Lain ceritanya kalau penjamin adalah misalnya, saudara kandung debitur atau, dalam kasus subprime mortgage, pemerintah AS sendiri. Jadi, sebenarnya tindakan yang dilakukan melalui CDS ini tidak pernah merubah kualitas asset, ia hanya memindahkan resiko ke pihak lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari dua hal di atas, menjadi jelas kalau sebenarnya “bust” yang terjadi pada perbankan Barat, yang memainkan instrument pembiayaan rumah secara murah ini untuk menjadikannya sumber keuntungan, adalah hal yang sangat logis terjadi berikut juga kepastiannya. Dan ketika akhirnya default meningkat pada kredit subprime ini, jatuhnya asset CDS mulai terjadi satu per satu, hingga akhirnya pemerintah negara-negara maju memutuskan untuk menghentikan runtuhnya kartu domino ini—atas biaya pajak rakyat.</span></p>
<p><!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=115&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/sekuritisasi-aset/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lesson Learned from the last Great Depression of 1930’s</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/lesson-learned-from-the-last-great-depression-of-1930%e2%80%99s/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/lesson-learned-from-the-last-great-depression-of-1930%e2%80%99s/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 17:50:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Krisis Ekonomi Global tahun 2008 mulai menghantui kita semua. Hingga saat ini masih belum ada pihak yang berani menyatakan, sedalam apa krisis ini, berapa lama kita akan berada dalam krisis, apa penyebabnya, dan bagaimana memulihkan ekonomi dunia kembali ke sebelum 2008. Hal menarik yang lazim dilakukan orang berakal adalah mencari penjelasan dari kejadian yang serupa/mirip. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=110&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- @page { margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt; Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt; &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span class="mceItemObject"></span> <!--[endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]&gt;--> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align:justify;">Krisis Ekonomi Global tahun 2008 mulai menghantui kita semua. Hingga saat ini masih belum ada pihak yang berani menyatakan, sedalam apa krisis ini, berapa lama kita akan berada dalam krisis, apa penyebabnya, dan bagaimana memulihkan ekonomi dunia kembali ke sebelum 2008.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal menarik yang lazim dilakukan orang berakal adalah mencari penjelasan dari kejadian yang serupa/mirip. Nah, kejadian yang mungkin mirip dengan krisis Ekonomi 2008 ini adalah The Great Depression of 1930’s.</p>
<p style="text-align:justify;">Depresi global tahun 1930 ditenggarai dimulai dengan runtuhnya Wall Street tahun 1929 dalam kejadian yang dikenal dengan Black Thursday di Amerika Serikat. Setelah itu kejadian buruk datang bertubi-tubi, mulai dari bank rush, tutupnya berbagai perusahaan, ratusan bank dibangkrutkan, pengangguran meningkat tajam, hingga kontraksi dalam ekonomi. Berbagai teori telah dikemukakan untuk menjawab apa yang menjadi sebab dari depresi ekonomi global ini, mulai dari kebijakan pengetatan likuiditas yang dilakukan berbagai bank, kesalahan yang dilakukan the Fed dalam menjaga jumlahuang yang beredar, keputusan Bank Sentral Inggris untuk kembali ke Standar Emas sebelum Perang Dunia I, dan banyak hal lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun ada satu penjelasan menarik yang diberikan oleh Marriner S. Eccles, pemimpin Federal Reserve AS di era Franklin D Roosevelt dan selanjutnya (1934-1948). Ia menuliskan secara cukup mendetail apa yang ia yakini sebagai penyebab Depresi ini dalam Memoirnya , Beckoning Frontiers (New York, Alfred A. Knopf, 1951)[24]:</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-110"></span><em>Produksi massal harus dibarengi dengan konsumsi massal, yang kemudian akan berdampak pada pendistribusian kekayaan –yakni kekayaan yang dihasilkan dari produksi, dan bukannya kekayaan eksisting—untuk menyediakan masyarakat kekuatan untuk membeli (purchasing power) barang dan jasa yang bisa disediakan oleh permesinan ekonomi bangsa yang bersangkutan (</em>dicetak miring sebagaimana aslinya)</p>
<p style="text-align:justify;">Alih-alih melakukan pendistribusian sebagaimana tersebut di atas, sebuah pompa besar di tahun 1929-1930 menyedot kekayaan tersebut ke tangan segelintir orang. Hal ini menyebabkan capital menumpuk di tangan mereka. Namun dengan menarik daya beli dari masyarakat kebanyakan, para penumpuk kekayaan ini malah mengurangi kekuatan untuk membeli produk yang mereka buat sendiri sehingga mengurangi nilai investasi di pabrik-pabrik baru. Sebagai akibatnya, sebagaimana di permainan Poker, di mana chip semakin terkumpul di segelintir pemain, pemain lain hanya akan bisa ikut bermain dengan cara meminjam chip dari segelintir pemain itu. Ketika peminjaman ini berakhir, maka permainan akan berakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah yang kita alami di tahun 1920an. Kita berhasil mempertahankan tingkat pengangguran di level rendah dengan melakukan ekspansi hutang di luar system perbankan. Hutang ini dibiayai oleh dana yang disimpan pemodal besar dan para high-net-worth individual lainnya yang hanya dikenai pajak yang rendah. Hutang non-bank ini meningkat 50%. Dengan tingkat bungan yang tinggi, hutang ini mengambil bentuk kredit perumahan, pembangunan hotel dan perkantoran, cicilan konsumen, pinjaman broker, dan hutang luar negeri. Stimulus untuk konsumsi dari hutang semacam ini tidak sustainable dan tidak bisa diandalkan untuk menjaga tingkat pengangguran jangka panjang yang berkelanjutan. Jika saja distribusi kekayaan ini berlangsung lebih baik, dengan kata lain jika saja para pemodal ini tidak terlalu agresif menabungnya dan lapisan bawah diberi penghasilan yang lebih baik, maka kita akan memiliki ekonomi yang jauh lebih stabil. Jika saja enam miliar Dolar, misalnya, yang ditanamkan ke pasar saham untuk spekulasi ditanamkan ke public dalam bentuk gaji yang lebih tinggi atau harga yang lebih rendah, maka keruntuhan ekonomi 1929 bisa dihindari.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya kita masuk ke masa ketika tidak ada lagi chip poker yang bisa kita pinjamkan. Debitur kemudian akan dipaksa untuk mengurangi konsumsinya untuk menciptakan ruang yang diperlukan untuk mengurangi hutang mereka. Tentu saja hal ini akan berdampak pada penurunan permintaan akan segala jenis barang sehingga muncul kesan over-produksi. Sebenarnya yang terjadi adalah penurunan konsumsi bila kita lihat secara riil. Hal ini selanjutnya akan berdampak pada penurunan harga dan penyerapan tenaga kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengangguran selanjutnya menekan konsumsi barang, yang berdampak kembali pada bertambahnya pengangguran, kemudian berdampak pada siklus penurunan harga. Pendapatan mulai menghilang, menyebabkan meningkatnya kebutuhan dalam skala ekonomi yang berdampak pada penurunan gaji, penguranan jam kerja, dan sejenisnya. Dengan demikian siklus penurunan ini berlanjut hingga akhirnya sepertiga populasi kehilangan pekerjaan mereka, dengan pendapatan nasional berkurang hingga lima puluh persen yang berdampak pada penurunan kemampuan membayar kembali hutang secara riil.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah kemudian, dalam pandangan saya apa yang menjadi penyebab depresi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=110&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/lesson-learned-from-the-last-great-depression-of-1930%e2%80%99s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Swat Ceasefire: A Six Million-Dollar Question?</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/swat-ceasefire-a-six-million-dollar-question/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/swat-ceasefire-a-six-million-dollar-question/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 02:51:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/swat-ceasefire-a-six-million-dollar-question/</guid>
		<description><![CDATA[Wed, 25 Feb 2009 20:33:57 GMT By Kian Mokhtari Gencatan senjata antara militan Taliban dengan Islamabad di lembah Swat di Utara Pakistan tampak bertentangan dengan akal sehat. Pasti ada sesuatu yang lebih besar di balik pengumuman ini, sesuatu yang lebih luas daripada rumor pembayaran USD 6 juta dan kesepakatan atas implementasi hukum syariat Islam oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=109&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Wed, 25 Feb 2009 20:33:57 GMT </em><br />
<em>By Kian Mokhtari</em><br />
<strong>
<p style="text-align:justify;">Gencatan senjata antara militan Taliban dengan Islamabad di lembah Swat di Utara Pakistan tampak bertentangan dengan akal sehat. Pasti ada sesuatu yang lebih besar di balik pengumuman ini, sesuatu yang lebih luas daripada rumor pembayaran USD 6 juta dan kesepakatan atas implementasi hukum syariat Islam oleh Taliban.</strong><br />
<span id="more-109"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak yang berspekulasi apakah maneuver yang dilakukan tim Jenderal Petraeus dari AS memiliki kaitan dengan hal ini. Bagaimanapun, kekuasaan yang dipegang Taliban di sisi mana pun dari perbatasan Afghanistan tidak memiliki maslahat untuk jangka panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada keunikan yang berlaku dalam system pemerintahan Pakistan di wilayah perbatasan utara, yaitu bahwa yang berlaku adalah system federal. Dengan kata lain, secara <em>de jure</em> mereka memang berada di bawah kekuasaan Pakistan, namun kekuasaan <em>de facto</em> Islamabad tidak berlaku atas mereka. Wilayah-wilayah perbatasan ini diatur oleh pemerintah setempat. Meskipun mengatakan wilayah ini sebagai wilayah otonom tampaknya masih belum tepat, namun membayangkan Taliban bukan lagi menjadi penguasa wilayah ini juga sangat sulit.</p>
<p style="text-align:justify;">Pasukan Pakistan dan militan Taliban telah melakukan perjanjian gencatan senjata sejak 15 Februari. Perjanjian ini bisa terbentuk setelah pemerintah Pakistan menawarkan pemberlakuan hukum syariat sebagai imbalan atas perlucutan senjata Taliban. Perjanjian gencatan senjata ini akan habis masa berlakunya pada hari Rabu (25/2) namun tampaknya pimpinan militan Taliban telah memperpanjangnya hingga <em>“masa yang tidak ditentukan”</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang juga mengejutkan adalah pengumuman dari militan di Bajur, juga di wilayah Utara-Barat Laut, yang menyatakan kalau mereka juga akan melakukan gencatan senjata dengan pemerintah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kendali pihak militan di wilayah Utara-Baratlaut Pakistan sangat kuat, seperti halnya di Waziristan Selatan. Kegagalan berulang Islamabad dari menerapkan pemerintahan yang efektif dari sisi administratif dan yudisial telah dimanfaatkan oleh Taliban. Bahkan militan Taliban telah mengukuhkan system peradilan, pajak, dan administratif yang parallel, lengkap dengan patroli keamanan dan pos pemeriksaan di wilayah lembah Swat dan sekitarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Militan ini tidak saja berhasil bertahan dari operasi militer selama setahun penuh, namun juga melakukan operasi-operasi <em>“khas”</em> mereka, seperti: memenggal musuh, menyerbu komunitas Syiah dan Ismailiyah, serta membom atau membakar sekolah-sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tampaknya para Taliban ini tidak mempunyai memori jangka panjang serta gagal mengingat Bapak pendiri Pakistan, Muhammad Ali Jinnah, yang berasal dari kelompok Syiah-Ismailiyah, meskipun selanjutnya ia pindah memeluk mahzab Syiah duabelas Imam. Jinnah kemudian menyebutkan, tak lama setelah Pakta Lucknow di tahun 1916, bahwa rencananya mendirikan negara yang aman untuk Muslimin dalam melakukan hak-haknya dalam wadah Negara Pakistan bisa terwujud jauh lebih awal sekiranya kaum Muslimin di sana bersatu.</p>
<p style="text-align:justify;">Militan Taliban mengimpikan “Negara Islam” yang jauh dari standar keislaman. Mahzab mereka, Wahhabi, adalah mahzab yang sangat tidak toleran. Catatan brutal mereka terbentuk ketika mereka dahulu berkuasa, meskipun hanya dalam waktu yang singkat, di Afghanistan: penghancuran monumen Buddha di Bamian, penutupan sekolah untuk anak-anak putri, pelarangan seluruh kegiatan budaya dan pembunuhan sektarian massal serta pemenggalan-pemenggalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pakistan bersikeras kalau mereka akan kembali mendapatkan kendali di wilayah Barat-lautnya, namun bentuk kendali ini secara politik memiliki definisi yang luas. Tindakan mereka yang menyerahkan kekuasaan kepada Taliban tampaknya masih sesuai dengan definisi mereka tentang “kendali” ini. Di tengah keterisolasian daerah perbatasan yang terpencil ini, Taliban dapat memaksakan kekuasaan mereka dengan cara-cara yang brutal –contohnya pembantaian kaum Syiah baru-baru ini di <strong>Parachinar</strong>- serta lepas dari pantauan media internasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun bahaya Taliban ini tidak akan terbatas di wilayah perbatasan utara Pakistan. Tujuan akhir militan ini adalah menguasai seluruh dunia Islam. Kesuksesan mereka dalam menguasai utara Pakistan, sebuah Negara yang memiliki senjata nuklir, dan hanya 160 km dari ibukota Islamabad tampaknya sebuah hasil yang <em>“menggembirakan”</em> bagi grup ekstremis ini dalam rangka menguasai dunia. </p>
<p style="text-align:justify;">Pemerintah Pakistan tampaknya telah sadar akan keengganan pasukan mereka untuk bertempur dengan pihak militan di darat, dan serangan-serangan udara mereka yang dilakukan secara jarang-jarang tampaknya hanya memberi hasil yang sangat terbatas, hingga akhirnya ditandatanganinya perjanjian gencatan senjata ini. Dengan demikian, secara efektif Taliban telah memenangkan perang atas kekuasaan di wilayah lembah Swat ini. Dan kemudian, tuntutan Presiden Pakistan <strong>Asif Zardari </strong>agar Taliban meletakkan senjata mereka tampaknya tidak membuat mereka (Taliban) bergeming. Demikian menurut sejumlah laporan dari pihak setempat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekacauan yang dibuat AS di Afghanistan tampaknya telah merambat ke Pakistan; dan hal ini mirip-mirip kondisi yang berlangsung ketika Prancis dikalahkan di Indochina/Vietnam yang kemudian terpecah-pecah menjadi berbagai Negara Utara, Selatan, Kamboja dan Laos. Kita semua tahu apa yang terjadi di wilayah itu kemudian&#8230;</p>
<p>Terjemah dari PressTV.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=109&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/swat-ceasefire-a-six-million-dollar-question/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Krisis Finansial Global,  Babak akhir Kapitalisme?</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/krisis-finansial-global-babak-akhir-kapitalisme/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/krisis-finansial-global-babak-akhir-kapitalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 01:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/krisis-finansial-global-babak-akhir-kapitalisme/</guid>
		<description><![CDATA[Pada akhir Ramadhan 1429 H, atau akhir September 2008, ketika umat Muslimin sedunia bersiap mengakhiri Ramadhan dan menyambut tibanya hari raya Idul Fitri, kejadian dramatis menimpa berbagai sentra-sentra kapitalisme dunia. Dimulai dengan bangkrutnya Lehman Brothers, suatu bank investasi besar AS dengan jumlah asset lebih dari USD 275 milyar dengan usia 150 tahun, lalu berlanjut ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=108&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pada akhir Ramadhan 1429 H, atau akhir September 2008, ketika umat Muslimin sedunia bersiap mengakhiri Ramadhan dan menyambut tibanya hari raya Idul Fitri,  kejadian dramatis menimpa berbagai sentra-sentra kapitalisme dunia. Dimulai dengan bangkrutnya Lehman Brothers, suatu bank investasi besar AS dengan jumlah asset lebih dari USD 275 milyar dengan usia 150 tahun, lalu berlanjut ke krisis likuiditas seluruh bank di Amerika dan Uni Eropa. Pasar uang antar Bank London (LIBOR), di mana bank-bank saling meminjam dengan suku bunga yang dipertukarkan, mengalami lonjakan yang cukup drastic hingga sempat menyentuh belasan persen (sebelumnya ada di kisaran 2%) hingga akhirnya stabil di level 6% an . Ekspor-impor dunia pada akhir September turun 50% karena Bank-bank kesulitan likuiditas sehingga terpaksa menolak pembukaan L/C dari international traders. Kesulitan likiditas yang parah ini juga bahkan sempat menimpa jaringan hotel besar dunia JW Marriott yang terpaksa membatalkan/menunda operasionalnya karena tak bisa menemukan pinjaman dari pasar uang dunia (Money Market)<br />
<span id="more-108"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kesulitan likiditas ini kemudian berimbas pada berbagai bursa saham utama dunia. Indeks Dow Jones sampai melorot ke level paling rendah di 8900-an (dari sebelumnya di level 14.000-an). Bursa Efek Indonesia (BEI) sampai di-suspend selama tiga hari setelah mengalami penurunan fenomenal 10% dalam satu jam. Penurunan indeks ini dialami berbagai bursa dunia, mulai dari Wall Street, Nikei, Hang Seng, hingga bursa-bursa yang masih baru seperti di Timur Tengah dan Asia Selatan dengan besaran penurunan nilai hingga 10% per hari. </p>
<p style="text-align:justify;">Krisis likiditas akhirnya sedikit mengalami kelonggaran setelah intervensi langsung pemerintah-pemerintah di dunia. AS menyetujui paket bailout senilai total USD 700 milyar. Inggris dan pemerintah-pemerintah yang tergabung dalam Uni Eropa melakukan hal yang sama dengan jumlah komitmen yang tak kalah fantastisnya hingga di kisaran USD 900 milyar. Pemerintah dan Bank Sentral lain juga tak kalah melakukan berbagai aksi darurat untuk mencegah hancurnya ekonomi global pada minggu terakhir September hingga minggu ketiga Oktober. Kini para pelaku pasar financial sedikit bernapas lega karena berbagai komitmen penyelamatan dari pemerintah itu, namun berbagai indicator ekonomi global sepertinya masih menunjukkan kalau “The worst is still to come”</p>
<p style="text-align:justify;">Sejatinya, drama yang terpampang di panggung global pada September-Oktober 2008 ini hanyalah kejadian akhir dari berbagai penyimpangan yang telah berlangsung sejak lama di sentra-sentra kapitalisme dunia. Hal-hal yang menjadi sebab dari adegan terbaru ini sesungguhnya telah lama terjadi dan ia tidak terlepas sama sekali dari akibat diterapkannya Kapitalisme sebagai system ekonomi global.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak pihak yang menyalahkan diterbitkannya subprime mortgage di AS sebagai penyebab kekacauan ekonomi ini. Ceritanya, karena semakin banyak para pemegang kredit perumahan tingkat kedua (subprime) yang tidak mampu membayar kewajibannya kepada Bank, maka Bank-bank penyedia kredit ini kemudian akan mengalami kerugian karena NPL (Non-Performing Loan—Kredit macet). Seiring dengan banyaknya kredit perumahan yang macet, semakin banyak rumah-rumah yang disita. Banyaknya rumah yang disita ini berakibat pada meningkatnya supply rumah, sementara demand tidak mengalami peningkatan. Dengan adanya perubahan ini menyebabkan harga rumah di AS menjadi murah, lebih murah daripada nilai kredit pembelian awalnya. Dengan adanya selisih antara harga pasar rumah dengan outstanding/baki debet (jumlah yang masih dihutang) akan menyebabkan lebih banyak orang yang lebih senang melepas rumahnya. Ia dapat dengan mudah membeli rumah dengan harga yang lebih murah (ketimbang harus melunasi hutangnya yang lebih mahal). Hal ini berlangsung secara massal, hingga pada Agustus 2007 terjadi krisis kredit perumahan “Subprime mortgage crisis” yang ditimbulkan dari semakin memburuknya portfolio perbankan internasional karena tingginya NPL di kredit perumahan AS.<br />
Menjadikan Krisis Subprime Mortgage sebagai biang yang paling bersalah atas terjadinya krisis ini merupakan reduksi yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Data mengungkapkan kalau jumlah outstanding subprime di AS hanya USD 1,3 trilyun dengan jumlah NPL hanya 16% (per Maret 2007) atau hanya sekitar USD 208 milyar. Jumlah ini sangat tidak sebanding dengan berbagai injeksi, rekapitalisasi, dan jaminan dari berbagai pemerintah di dunia yang jumlahnya lebih dari USD 1 trilyun. Apalagi kalau melihat berbagai lembaga keuangan yang jatuh dalam krisis ini, seperti Lehman Brothers yang memiliki asset lebih dari USD 270 milyar.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang menarik adalah bahwa ternyata Subprime Mortgage ini tidak berdiri sendiri. Ada hal lain yang menjadi penyebab parahnya krisis ekonomi-finansial sekarang yang berdiri seirama dengan subprime mortgage.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam dunia perbankan, istilah subprime digunakan untuk berbagai pihak yang sebenarnya tidak memiliki kelayakan untuk menerima kredit. Penyebab dari ketidak-layakan ini adalah antara lain: track record kredit yang bersangkutan, jumlah gaji bulanan yang terlalu kecil menurut standar normal, status pekerjaan yang tidak tetap, dll. Dengan kata lain, bank akan mengambil resiko yang sangat besar bila melakukan akad kredit dengan pihak-pihak seperti ini. Dan eksposur bank atas eksposur semacam ini akan melanggar prinsip kehati-hatian bank (prudent practice of banking).<br />
Namun bank-bank di dunia Barat tetap kekeuh untuk memiliki portfolio yang berbahaya ini. Kenapa? Karena adanya adagium high risk-high return. Semakin tinggi resikonya, semakin besar keuntungan yang bisa diperoleh. Dan memang, secara aktual para debitur subprime ini dikenakan suku bunga yang lebih tinggi 1-2% dari suku bunga debitur prime.</p>
<p style="text-align:justify;">High return inilah yang menjadi motivator utama para bankir di Wall Street, London, dll untuk mengambil resiko tinggi tersebut. Bagaimana dengan resiko-nya? Mereka muncul dengan istilah baru: Sekuritisasi. </p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjaga resiko gagal bayar para debitur subprime ini, perbankan Barat memutuskan untuk mengeluarkan kontrak baru untuk mengamankan kredit beresiko ini. Dikenal dengan nama Credit Default Swap (CDS). Dengan CDS ini, perbankan Barat dapat mengamankan kredit subprime dengan menjual kontrak ke pihak ketiga. Bila terjadi kemacetan (default), maka pihak ketiga ini yang akan menjamin kredit tersebut. Perlu dicatat kalau pihak ketiga yang menjamin ini sama sekali tidak memiliki hubungan dengan pihak kreditur atau bahkan debitur. Karena tiadanya keterikatan ini, maka kontrak CDS ini dapat digunakan sebagai asset yang diperjual-belikan (Tradable Asset). Demikian aktifnya bank-bank di Barat dalam memperjual-belikan konrtak CDS ini, sampai-sampai banyak pihak yang tidak lagi mengetahui siapa kreditur dan debitur asli yang dimaksud dalam kontrak CDS ini (adanya kontrak CDS atas kontrak CDS).</p>
<p style="text-align:justify;">CDS adalah produk derivative kredit yang paling banyak diperdagangkan. Bank for International Settlements melaporkan kalau jumlah jumlah transaksi over the counter (di bawah tangan) instrument ini mencapai $42,6 trilyun pada bulan Juni 2007, dari sebelumnya pada Desember 2006 sebesar $28,9 trilyun dan $13,9 triliun di Desember 2005. Pada akhir 2007 diperkirakan ada $45 triliun sampai $62,2 triliun nilai outstanding CDS di seluruh dunia. </p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kata lain, untuk mengamankan portfolio kredit senilai USD 1,3 trilyun, dikeluarkan dana hingga USD 62 trilyun untuk men-sekuritisasi-nya. (Catatan: Jumlah kontrak CDS untuk mengkover Subprime mortgage ini memang tidak sampai sebesar USD 62 trilyun, namun karena tidak-jelasnya untuk siapa kontrak CDS ini, maka secara potensial seluruh kontrak CDS ini terkait dengan subprime mortgage). Sekuritisasi ini juga sebenarnya hanya pengamanan kredit yang semu. Mustahil melakukan penjaminan hutang dengan meminjam ke pihak lain. Akan lebih bermakna kalau misalnya pihak penjamin ini memiliki keterkaitan yang jelas dengan pihak kreditur. Tanpa adanya keterkaitan ini, bahkan kreditur tidak mengetahui adanya penjaminan tersebut, maka sekuritisasi ini sesungguhnya adalah eksposur baru. Dengan kata lain, bukannya mengurangi eksposur resiko yang dipegang bank, sekuritisasi ini malah menambah eksposur tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka yang terjadi sekarang adalah ada surat hutang senilai USD 62 trilyun milik perbankan dunia yang tidak jelas statusnya. Hal inilah sesungguhnya yang menjadi penyebab krisis likuiditas perbankan dunia. Dan karena rumitnya jalinan antara satu kontrak CDS dengan kontrak CDS lainnya, maka masih perlu waktu yang cukup lama hingga akhirnya jelas berapa sesungguhnya dari USD 62 trilyun ini yang masih memiliki nilai, dan berapa yang sudah berubah menjadi surat hutang tak bernilai.</p>
<p style="text-align:justify;">USD 62 trilyun bukanlah angka yang kecil. Sebagai gambaran, Jumlah GDP (Gross Domestik Product) seluruh dunia di tahun 2007 hanya USD 54 trilyun. Dengan bahasa yang lebih jujur, dunia menghabiskan uang yang lebih besar dari yang ia hasikan dalam satu tahun untuk pepesan kosong.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam melihat kejadian adanya subprime mortgage dan derivative CDS ini, menjadi pertanyaan: apakah yang menyebabkan para bankir kelas dunia ini menjadi begitu gegabah? Jawabannya jelas, yaitu keuntungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam dunia korporasi seperti sekarang, ada pemisah yang jelas antara peran manajemen dengan para pemegang saham. Untuk korporasi besar, biasanya manajemen bukanlah pemilik dari perusahaan itu. Tujuan dari manajemen adalah menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya agar pemegang saham dapat semakin kaya. Sebagai imbalan, manajemen akan memperoleh hadiah dalam bentuk bonus tahunan atau stock options (kepemilikan saham). Untuk perusahaan yang sahamnya diperjual-belikan di bursa efek, maka tidak ada bedanya stock option ini dengan bonus cash, karena manajemen dapat dengan cepat menjual saham hadiah tersebut ke pihak lain. Dengan demikian, untuk perusahaan-perusahaan besar yang sahamnya menjadi blue-chip (perusahaan yang sahamnya aktif diperdagangkan di lantai bursa) di bursa-bursa efek dunia, bonus bagi manajemen pada hakikatnya hanya satu, yaitu cash.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya ada maksud khusus dari diberikannya bonus berupa stock option ini bagi manajemen. Ia menjadi lebih istimewa karena bonus saham ini memberikan sense of belonging bagi manajemen. Diharapkan dengan adanya rasa memiliki ini, manajemen akan menjadi lebih berhati-hati dan lebih baik dalam mengelola perusahaan. Satu hal yang menjadi perhatian adalah rasa memiliki dari manajemen dalam keberlangsungan perusahaan (going concern).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, bila manajemen tidak turut dilibatkan dalam kepemilikan perusahaan, maka banyak hal negatif yang terjadi. Manajemen akan melibatkan perusahaan ke dalam usaha resiko tinggi yang akan memberikan imbalan (return) yang lebih tinggi. Hal ini logis saja, karena bonus diberikan sebagai persen keuntungan tahunan perusahaan. Dan, di era di mana saham perusahaan menjadi pengganti uang kas, hal inilah yang banyak terjadi di perbankan barat.<br />
Keputusan mereka untuk turut memiliki portfolio yang beresiko tinggi ini adalah karena mereka mementingkan keuntungan tahunan.
<p style="text-align:justify;">Mentalitas seperti inilah yang membawa lebih banyak uang beredar di pasar derivative yang memiliki resiko tinggi dengan underlying asset yang tidak jelas (dengan demikian mengancam keberlangsungan perusahaannya). Di dunia Barat, bila Bank (misalnya Deutsche Bank) memberikan fasilitas kredit ke perusahaan manufaktur besar (misalnya BMW) maka paling banyak return yang bisa ia peroleh hanya 1%. Bandingkan dengan return yang diperoleh di pasar derivative yang bisa mencapai 3-4%.</p>
<p style="text-align:justify;">Celakanya, dunia kapitalisme global membutuhkan bursa saham untuk kapitalisasi asset mereka, sebagaimana mereka membutuhkan sumber-sumber investasi lainnya. Kapitalisasi saham di bursa Wall Street (NYSE) saja mencapai USD 25 triliun dengan jumlah transaksi hariannya mencapai ratusan miliar dollar. Dengan demikian, bahkan para pemegang saham korporasi-korporasi raksasa pun berkepentingan agar perusahaannya mendapatkan keuntungan yang besar, dengan harapan dapat memicu sentiment positif dan menjual saham yang ia miliki dengan harga premium.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, dunia kapitalisme global sangat mengapresiasi jumlah keuntungan yang bisa diperoleh. Ia tak lagi terlalu khawatir dengan adanya resiko kehancuran perusahaan (kecuali kehancuran itu sangat dekat terjadinya), apalagi resiko kerusakan lingkungan, resiko de-stabilisasi sosial, dll. Para manajer investasi, bankir-bankir, dan eksekutif lainnya sesungguhnya telah menjalankan peran mereka dengan sangat baik (yaitu, meraih keuntungan sebesar-besarnya) sebagaimana diharapkan dalam pandangan dunia kapitalisme. Jadi, apa yang mau dikeluhkan?</p>
<p style="text-align:justify;">Jelaslah kalau semua kejadian yang kita sebutkan sebagai krisis global ini sebenarnya adalah akibat yang lumrah dari system kapitalisme global. Suatu ideology yang mensyaratkan kekayaan sebagai sumber kebahagiaan, dan kekayaan tanpa batas untuk kebahagiaan yang ultima, ternyata hanya mendorong manusia menuju keserakahan dan akhirnya berujung kepada malapetaka juga. Maka, dunia yang semakin menyatu dan semakin kuat ketergantungannya ini membutuhkan sebuah system baru. Sistem ini haruslah menjamin kebahagiaan manusia secara keseluruhan berdasarkan keadilan bersama, bukan pengumpulan modal di segelintir orang ala kapitalisme ini, atau pembagian kapital yang menafikan perbedaan usaha antar individu ala komunisme. Dunia kini membutuhkan sebuah alternatif dari kapitalisme (dan juga komuisme), yang sama sekali berbeda darinya dan bukan sekedar tambal sulam dari ideologi yang suram dan mematikan ini. Dengan demikian, dunia kini membutuhkan sebuah sistem yang adil, universal, dan holistik.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=108&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/krisis-finansial-global-babak-akhir-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Operation Cast Lead : Petualangan Militer tanpa hasil</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/operation-cast-lead-petualangan-militer-tanpa-hasil/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/operation-cast-lead-petualangan-militer-tanpa-hasil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 00:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Baron Von Clausewitz dalam bukunya “Vom Krieg” (Tentang Perang) menyebutkan premisnya yang sering dikutip ahli militer kontemporer “Perang adalah kelanjutan dari politik.” Artinya, perang merupakan salah satu instrument yang digunakan orang dalam meraih tujuan politiknya. Namun, Clausewitz sebenarnya sedang melakukan proses dialektika. Ketika ia mengatakan “Perang adalah kelanjutan dari politik”, sebenarnya ia sedang mengutarakan sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=106&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<p style="text-align:justify;">Baron Von Clausewitz dalam bukunya <em>“Vom Krieg”</em> (Tentang Perang) menyebutkan premisnya yang sering dikutip ahli militer kontemporer “Perang adalah kelanjutan dari politik.” Artinya, perang merupakan salah satu instrument yang digunakan orang dalam meraih tujuan politiknya. Namun, Clausewitz sebenarnya sedang melakukan proses dialektika. Ketika ia mengatakan “Perang adalah kelanjutan dari politik”, sebenarnya ia sedang mengutarakan sebuah tesis. Antitesis yang ia ungkapkan kemudian adalah “Perang adalah murni untuk membunuh musuh.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Israel memulai serangannya ke Gaza di akhir Desember 2008, ia menyebutkan dua tujuan: Pertama, melemahkan Hamas; dan kedua, menghancurkan infrastruktur roket-roket yang mengancam Israel bagian selatan.<br />
<span id="more-106"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan modal dua sasaran ini, maka dimulailah operasi Cast Lead ini. Tanpa perlu lebih lanjut mengenai kronologis dan akibat-akibat menakutkan yang dihasilkan dari operasi militer ini, kita langsung saja lompat pada kondisi setelah Cast Lead ini “diakhiri” Israel secara sepihak.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, rakyat Palestina kini bersatu di bawah kepemimpinan Hamas. Tidak ada pemberontakan terbuka yang dilakukan warga Gaza atas otoritas Hamas. Kedua, alih-alih membungkam hujan roket ”al-Qassam”, di hari ketika PM Israel mengumumkan gencatan senjata sepihak dengan alasan ”Infrastruktur Roket Hamas telah dihancurkan” Hamas malah meluncurkan lusinan roket di wilayah Israel. Sebuah tindakan yang menohok Israel tepat di jakun mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, dalam perspektif tesis Clausewitz, di mana perang digunakan sebagai instrumen politik, operasi Cast Lead ini jelas gagal.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang menarik adalah antitesis Clausewitz ”Perang adalah murni membunuh musuh.” Tampaknya, dalam hal ini Israel memiliki sedikit kemajuan. Operasi Cast Lead selama tiga minggu mempertontonkan brutalitas murni yang dilakukan Israel. Alat militer tercanggih digunakan untuk membantai warga sipil, anak-anak, orang tua, wanita-wanita. Sasarannya bukanlah tank atau kapal perang, melainkan rumah sakit dan sekolah-sekolah. Maka, spektrum kesadisan menjadi sangat dominan dalam operasi Cast Lead ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ironisnya, kesadisan tingkat ekstrim yang ditunjukkan militer Israel ini tidak mampu meredam keunggulan perlawanan Hamas, apalagi membunuhnya. Malahan, efek pemboman bertubi-tubi yang dilakukan Israel ini justru memberikan beberapa keuntungan di pihak Hamas, antara lain:</p>
<p style="text-align:justify;">1.	Timbulnya amarah di masyarakat Gaza karena pemboman yang dilakukan ini tidak memandang sisi etika kemanusiaan. Kemarahan ini membuat kesatuan antara masyarakat dan pejuang Hamas menjadi kuat, bahkan memberikan potensi semakin banyak dari warga yang dahulunya tidak mendukung Hamas malah bergabung dengan sayap militer organisasi massa ini.</p>
<p style="text-align:justify;">2.	Secara militer, kota yang telah mengalami pemboman dan banyak didalamnya puing-puing bangunan yang runtuh justru menjadi keunggulan bagi pihak bertahan dalam strategi urban warfare.</p>
<p style="text-align:justify;">3.	Hamas dan Gaza mendapatkan simpati secara universal oleh masyarakat dunia. Belum pernah ada sebuah pihak yang dikepung, diisolasi, dan kemudian diserang secara bertubi-tubi oleh sebuah kekuatan militer yang konon paling kuat di wilayahnya. Karena fakta ini, Hamas memperoleh keunggulan publisitas dan Israel menjadi villain/penjahat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, menjadi genap-lah kegagalan Israel. Bahkan melalui kesadisan yang ditampilkan, Israel gagal mendapat keuntungan yang dikehendakinya. Bukannya membunuh musuh dan menjadikannya musnah menjadi abu, malah berubah menjadi ksatria yang bisa berdiri tegap, dengan dukungan warga dunia, dan menjadikan militer Israel sejenis paria dalam kemiliteran dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara analisis kemiliteran, operasi Cast Lead ini sudah ditakdirkan akan gagal sejak hari pertama. Dalam dua spektrum tesis dan antitesis-nya, Clausewitz, tidak ada tujuan yang bisa diharapkan dicapai oleh Israel dalam melakukan agresi ini.</p>
<p>
<p style="text-align:justify;">1.	Dalam hal perang sebagai bagian dari proses politik. Seharusnya komandan militer Israel mengetahui kalau kekuatan politik yang lahir dari rakyat tidak akan pernah bisa dihancurkan dengan kekuatan militer saja. Kalau mau menghancurkan Hamas, Israel seharusnya mengerahkan sumber daya dari sektor-sektor lain selain militer, entah itu budaya, ekonomi, sosial, dll. Kemungkinannya adalah kalau sesungguhnya mereka menyadari hal itu, namun telah mengalami kegagalan selama bertahun-tahun. Dengan demikian, operasi Cast Lead ini dilakukan sebagai upaya putus asa (desperation atau last resort). Apapun yang menjadi alasan diambilnya tindakan militer ini, tidak mengubah fakta awal  Kekuatan Militer tidak pernah bisa menghancurkan kekuatan rakyat.</p>
<p style="text-align:justify;">2.	Dalam hal perang sebagai murni membunuh musuh. Dalam perspektif ini, tujuan perang baru akan tercapai bila musuh telah habis dibunuh. Sayangnya, untuk memenuhi tujuan ini, Israel tidak mengerahkan alat yang paling efektif, bom nuklir misalnya. Sebenarnya untuk menghancurkan Gaza, cukup digunakan bom nuklir di kelas 30-40 kiloton (tactical nuclear). Israel pasti memiliki senjata sejenis itu. Apa alasan mereka? Tentunya berhentinya Israel dianggap sebagai kelas manusia oleh warga dunia. Sudah cukup buruk mereka memblokade sebuah kota dari segala arah, dua tahun tanpa suplai bahan bakar, obat-obatan, kebutuhan pokok, kecuali melalui terowongan-terowongan di perbatasan Rafah. Ditambah lagi pemboman sadis yang dilakukan. Untuk pemboman-pembonan dengan senjata konvensional, mereka punya alasan ”Pejuang Hamas berlindung di antara warga sipil.” Alasan ini saja tidak cukup membendung murka dunia. Apa yang bisa melindungi mereka dari amarah dunia kalau mereka membom Gaza dengan bom nuklir? Mereka sesungguhnya ingin melakukan hal ini, namun mereka sadar kalau mereka juga masih anggota dari spesies manusia di muka bumi.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, tidak ada yang bisa diharapkan untuk dipanen oleh Israel dalam melakukan operasi Cast Lead ini. Sesungguhnya analisa ini dan kesimpulannya tetap berlaku apapun hasil dari perang kemarin. Misalkan ternyata pejuang Hamas berhasil dikalahkan, dan kini Israel menguasai Gaza. Tetap saja Hamas akan menjadi pahlawan Palestina, dan kekuatannya tidak akan musnah, melainkan sekedar dormant dan pada waktunya akan kembali lagi.
<p style="text-align:justify;">Apalagi kalau kejadiannya seperti sekarang, ketika pejuang Palestina berhasil menghadang Israel, ketika Israel terpaksa mengumumkan ”gencatan senjata sepihak”, dan ketika pejuang Palestina yang gugur lebih sedikit daripada tentara Israel. Intinya, bahkan secara militer, tempat Israel menyimpan harapan, ia tetap dikalahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pasti, Israel kini sedang dalam kondisi yang amat terjepit. Kalau melakukan analogi ke sejarah Perang Dunia II, Israel telah melewati ”fase Stalingrad”. Seperti Jerman yang dahulu selalu menang sebelum 1942, kemudian berubah menjadi selalu bertahan setelah dikalahkan secara tragis di kota Stalingrad, hingga akhirnya tentara merah Rusia masuk ke kota Berlin di April 1945. Nazi German mulai dikalahkan di perang kota, di Stalingrad, dan kini Israel kehilangan momentum secara militer di kota Gaza. Terngiang-ngiang ucapan Nietszche ”Sejarah selalu berulang”. Insya Allah, di masa depan yang tidak lama lagi, akan masuk tank-tank tentara Muslimin ke kota Tel Aviv, sebagai penakluk&#8230;<br />
Wallahu’alam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=106&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2009/02/26/operation-cast-lead-petualangan-militer-tanpa-hasil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Credit Default Swap (CDS)</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2008/10/15/credit-default-swap-cds/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2008/10/15/credit-default-swap-cds/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Oct 2008 08:26:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[CDS (Credit Default Swap) adalah kontrak swap di mana pembeli melakukan pembayaran ke penjual, dan sebagai imbalannya menerima hak untuk memperoleh pembayaran bila kredit mengalami default atau kejadian lain yang tercantum dalam credit event, misalnya kebangkrutan atau restrukturisasi. Instrumen kredit yang dimaksud tidak perlu berhubungan dengan baik pembeli maupun penjual kontrak ini. Ia adalah kontrak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=104&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">CDS (Credit Default Swap) adalah kontrak <em>swap</em> di mana pembeli melakukan pembayaran ke penjual, dan sebagai imbalannya menerima hak untuk memperoleh pembayaran bila kredit mengalami <em>default </em>atau kejadian lain yang tercantum dalam <em>credit event</em>, misalnya kebangkrutan atau restrukturisasi. Instrumen kredit yang dimaksud tidak perlu berhubungan dengan baik pembeli maupun penjual kontrak ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia adalah kontrak kredit derivative antara dua pihak di mana “pembeli” melakukan pembayaran periodic kepada “penjual” dengan imbalan hak pembayaran bila ada kejadian kredit atau default di pihak ketiga atau “entitas tertunjuk”</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kejadian default di pihak entitas tertunjuk:</p>
<p><span id="more-104"></span></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">“pembeli”      biasanya mengirimkan asset yang default ke penjual untuk menerima      pembayaran di <em>nilai par</em>. Ini dikenal sebagai “Physical Settlement”</li>
<li class="MsoNormal">Atau      penjual membayar ke penjual selisih dari <em>nilai par </em>dengan nilai pasar atas      surat      hutang tertentu. Ini dikenal sebagai “cash settlement”.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">CDS biasanya digunakan untuk mengasuransikan defaultnya suatu instrument financial seperti obligasi dan hutang perusahaan. Namun selain itu mereka juga bisa digunakan sebagai instrument yang diperdagangkan antara penjual (yang meyakini kalau suatu instrument finansial <strong>tidak akan</strong> mengalami default) dan pembeli (yang meyakini kalau suatu instrument financial <strong>akan</strong> mengalami default).</p>
<p style="text-align:justify;">Bank dan institusi lain telah menggunakan CDS ini untuk menutupi resiko default atas berbagai portfolio kredit yang mereka miliki.</p>
<p style="text-align:justify;">CDS ini membuat bank dapat menyebarkan resiko dan memungkinkan <em>hedge funds</em> untuk melakukan spekulasi atas berbagai instrument kredit yang ada. Dalam contoh ini, <em>hedge fund </em>akan menjual proteksi ke suatu bank, kemudian akan menjual kontrak ini ke bank lain, dan berlanjut lagi. Praktek ini akan memasukkan investor ke dalam jalinan hubungan yang susah dirunut.</p>
<p style="text-align:justify;">CDS adalah produk derivative kredit yang paling banyak diperdagangkan. <a title="Bank for International Settlements" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bank_for_International_Settlements">Bank for International Settlements</a> melaporkan kalau jumlah jumlah transaksi <em>over the counter</em> (di bawah tangan) instrument ini mencapai $42,6 trilyun pada bulan Juni 2007, dari sebelumnya pada Desember 2006 sebesar $28,9 trilyun dan $13,9 triliun di Desember 2005. Pada akhir 2007 diperkirakan ada $45 triliun sampai $62,2 triliun<span> </span>nilai outstanding CDS di seluruh dunia.<sup> <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Credit_default_swap#cite_note-5">[6]</a></sup></p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 2007, Chicago Mercantile Exchange menyusun bursa yang diregulasi pemerintah federal untuk memperdagangkan CDS. Namun hingga kini belum berjalan karena boikot dari bank-bank yang lebih senang melakukannya di bawah tangan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=104&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2008/10/15/credit-default-swap-cds/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Financial crisis of 2007–2008</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2008/10/13/financial-crisis-of-2007%e2%80%932008/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2008/10/13/financial-crisis-of-2007%e2%80%932008/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 09:45:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Krisis Finansial 2007-2008, disebut sebagai “the credit crunch” atau “krisis kredit” oleh media, mulai muncul di permukaan pada 9 Agustus 2007, ketika investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap nilai sekuritisasi mortgage di Amerika Serikat yang berakibat pada krisis likuiditas yang berujung pada injeksi capital atas pasar financial oleh Federal Reserve dan European Central Bank. Indikator yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=100&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Krisis Finansial 2007-2008, disebut sebagai “the credit crunch” atau “krisis kredit” oleh media, mulai muncul di permukaan pada 9 Agustus 2007, ketika investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap nilai sekuritisasi mortgage di Amerika Serikat yang berakibat pada krisis likuiditas yang berujung pada injeksi capital atas pasar financial oleh Federal Reserve dan European Central Bank. Indikator yang menggambarkan resiko kredit atas ekonomi secara umum, TED spread, melonjak tajam pada Agustus 2007. untuk selanjutnya tetap berubah-ubah secara liar, dan kemudian melonjak lebih tinggi lagi di September 2008.</p>
<p><span id="more-100"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun runtuhnya pasar perumahan AS sering disebut sebagai penyebab dari krisis, pasar financial diperlemah karena adanya kontrak rumit yang dikenal sebagai derivative kredit Credit Default Swap (CDS), yang menjamin pemegang hutang terhadap kebangkrutan. CDS ini dibuat sendiri-sendiri oleh lembaga keuangan swasta, diperdagangkan di bawah tangan di luar jangkauan regulator. Tindakan pemerintah AS membangkrutkan perusahaan mortgage mendorong pelelangan sehingga trader yang memperjual-belikan CDS ini dapat melakukan settlement. Pelelangan ini digunakan untuk menentukan harga CDS sehingga investor dapat menyelesaikan kontrak mereka dengan uang kas dan bukannya dengan secara fisik mengirimkan surat hutang ke counter-party mereka. Penjual CDS ini kemudian menjual senilai nilai kontrak ini dikurangi nilai penyelamatan atas surat hutang ini.</p>
<h2><span class="mw-headline">Historical background</span></h2>
<p style="text-align:justify;">Krisis likuiditas secara sepintas timbul sebagai akibat dari timbulnya subprime mortgage crisis. Korban pertama di luar AS adalah Northern Rock, sebuah bank besar di Inggris. Ketidakmampuan bank ini meminjam dana untuk melunasi hutang-hutang yang jatuh tempo menyebabkan bank ini di rush pada pertengahan September 2007. Sifat bisnisnya yang sangat leveraged, dan tidak didukung oleh pemasukan kas, menyebabkan bank ini di takeover oleh pemerintah Inggris dan memaparkan indikasi awal kesulitan yang akan kemudian menimpa bank-bank dan lembaga keuangan lainnya di masa mendatang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ekspansi kredit yang berlebihan dengan standar evaluasi perkreditan yang dilonggarkan, yang merupakan karakter “Bubble perumahan AS”, mengakibatkan besarnya porsi subprime mortgage. Kredit resiko tinggi ini dipersepsikan telah diamankan dengan sekuritisasi. Namun, sekuritisasi ini bukannya memitigasi resiko malahan menyebarkan dan memperluas resiko ini dalam efek domino. Kerusakan yang timbul dari macetnya subprime mortgage ini kemudian menghantam pasar perumahan dalam skala besar dan mendorong terjadinya krisis. Meningkatnya penyitaan rumah-rumah menyebabkan lebih banyak rumah yang dijual dan meningkatkan supply yang kemudian menurunkan nilai pasar rumah-rumah disekitarnya yang selanjutnya juga disita dan ditinggalkan. Efek domino yang timbul dari ini menyebabkan timbulnya krisis keuangan</p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya perusahaan yang terpengaruh adalah perusahaan yang secara langsung terlibat dalam konstruksi rumah dan peminjaman kredit perumahan seperti Northern  Rock dan Countrywide Financial. Lembaga keuangan yang terlibat dalam sekuritisasi mortgage ini seperti Bear Stearns kemudian jatuh menjadi korban. Pada 11 Juli 2008, peminjam kredit perumahan terbesar di AS, IndyMac Bank, bangkrut dan asetnya diambil alih regulator federal setelah sebelumnya tenggelam dalam tekanan kredit yang semakin ketat, harga rumah yang rontok dan semakin banyaknya penyitaan. Hari itu pasar financial anjlok selagi berharap apakah pemerintah akan menyelamatkan perusahaan penyedia kredit perumahan lain seperti Fannie Mae dan Freddie Mac. Pada 7 September 2008 pemerintah melakukan hal itu dengan memasukkan kedua perusahaan ini dibawah pengawasan mereka setelah krisis semakin meningkat diakhir musim panas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span class="boilerplateseealso"><em>See also: <a title="Federal takeover of Fannie Mae and Freddie Mac" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Federal_takeover_of_Fannie_Mae_and_Freddie_Mac">Federal takeover of Fannie Mae and Freddie Mac</a></em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini kemudian semakin mempengaruhi ketersedian kredit untuk bisnis non-perumahan dan lembaga keuangan lain yang tidak terkait secara langsung dengan kredit perumahan. Di dalam asset lembaga keuangan ini adalah portfolio investasi atas asset-aset yang merupakan derivative dari kredit perumahan. Eksposur atas sekuritisasi berbasis mortgage atau kredit derivative yang digunakan untuk menjamin mereka dari kebangkrutan semakin mengancam berbagai perusahaan seperti Lehman Brothers, AIG, Merrill Lynch, and HBOS. Perusahaan lain yang mendapat tekanan termasuk Washington Mutual, bank simpan pinjam terbesar di AS, dan sisa perusahaan investasi seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs.</p>
<h2><a name="Developing_global_financial_crisis"></a><span class="mw-headline">Developing global financial crisis</span></h2>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><em>Main article: <a title="Global financial crisis of September–October 2008" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Global_financial_crisis_of_September%E2%80%93October_2008">Global financial crisis of September–October 2008</a></em></p>
<p style="text-align:justify;">Dimulai dengan pembangkrutan Lehman Brother pada hari minggu, 14 September 2008, krisis financial memasuki fase akut ditandai dengan kegagalan bank-bank Amerika dan Eropa dan upaya pemerintah mereka melakukan penyelamatan. Di AS dengan dikeluarkannya <a title="Emergency Economic Stabilization Act of 2008" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Emergency_Economic_Stabilization_Act_of_2008">Emergency Economic Stabilization Act of 2008</a> dan di Eropa dengan injeksi capital ke bank-bank besar. Seiring dengan perkembangan krisis, bursa saham di seluruh dunia rontok dan regulator berupaya untuk mengendalikan krisis. Jatuhnya harga minyak karena turunnya permintaan, ditambah dengan proyeksi adanya resesi global, membawa <a title="2000s energy crisis" href="http://en.wikipedia.org/wiki/2000s_energy_crisis">2000s energy crisis</a> ke penyelesaian sementara.</p>
<p style="text-align:justify;"><a name="Projections"></a>Sejumlah pengamat menyatakan kalau krisis likuiditas ini dilanjutkan, maka akan berlanjut ke resesi berkepanjangan atau bahkan lebih parah. Semakin memburuknya perkembangan krisis membawa ketakutan akan hancurnya ekonomi global. Krisis ini tampaknya akan berujung pada penyelamatan terbesar industri perbankan sejak 1930-an. Bank Investasi UBS menyatakan pada 6 Oktober bahwa pada tahun 2009 akan ada resesi global dengan pemulihan akan memakan waktu paling cepat satu sampai dua tahun. Tiga hari kemudian ekonomis UBS menyatakan bahwa “tahap akhir” dari krisis ini sudah tampak, dengan dunia telah melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mengatasi krisis ini: injeksi modal dari pemerintah, injeksi dilakukan secara sistematis, pemotongan tingkat suku bunga untuk menolong debitur. Pemerintah Inggris telah memulai injeksi sistemik, dan bank-bank sentral dunia kini telah memotong tingkat suku bunga mereka. UBS menyatakan bahwa AS harus mengimplementasi injeksi sistematis ini. UBS juga kemudian menyatakan bahwa hal ini hanya akan memperbaiki krisis financial, namun secara ekonomi “yang terburuk masih akan tiba”.</p>
<h2><span class="mw-headline">Timeline of events</span></h2>
<h3><a name="Background"></a><span class="mw-headline">Background</span></h3>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><a title="Subprime mortgage crisis" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subprime_mortgage_crisis">Subprime mortgage crisis</a></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><span class="boilerplatefurther"><em>Further information: <a title="Subprime crisis background information" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Subprime_crisis_background_information">Subprime crisis background information</a></em></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kredit Subprime adalah kegiatan pemberian pinjaman ke kreditur yang tidak masuk kualifikasi untuk kredit umum (dengan suku bunga yang berlaku umum) dikarenakan berbagai factor resiko seperti tingkat pendapatan, jumlah kemampuan down-payment, track record kredit, dan status pekerjaan. Nilai kredit subprime di AS sekitar USD 1,3 trilyun (per Maret 2007) dengan jumlah debitur 7,5 juta orang. Per Oktober 2007, sekitar 16% pinjaman subprime mengalami tunggakan 90 hari atau sedang mengalami proses penyitaan, atau tiga kali tingkat di tahun 2005. Pada Januari 2008 meningkat menjadi 21% dan pada Mei 2008 meningkat menjadi 25%.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pasar kredit perumahan AS diperkirakan sebear USD 12 Trilyun dengan tingkat kredit macet 9,2% pada Agustus 2008. Kredit subprime hanya mewakili 6,8% dari seluruh kredit perumahan AS, namun mereka mewakili 43% kredit perumahan yang macet. Pada tahun 2007 ada sekitar 1,3 juta rumah yang disita, atau naik 79% dari tahun 2006.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penyebab dari timbulnya krisis bervariasi dan cukup kompleks. Krisis ini bisa diatributkan ke berbagai factor di pasar perumahan maupun pasar kredit seperti gagal bayar di pihak debitur, penilaian yang keliru dari kreditur, spekulasi dan pembangunan yang berlebihan selama terjadinya boom pasar perumahan, produk kredit perumahan yang beresiko tinggi, penipuan (fraud), dll.</p>
<h3><a name="Events_of_2007"></a><span class="mw-headline">Events of 2007</span></h3>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Terjadinya krisis likuiditas      pada 9 Agustus 2007</li>
<li class="MsoNormal">Northern Rock memperoleh      bantuan likuiditas dari BoE (Bank of England) pada 14 September 2007</li>
<li class="MsoNormal">Rekor tertinggi pasar saham      AS pada 9 Oktober 2007 di Dow        Jones Industrial        Average (DJIA) sebesar 14.164</li>
</ul>
<h3><a name="Events_of_2008"></a><span class="mw-headline">Events of 2008</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;"><em>Main article: <a title="Economic crisis of 2008" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Economic_crisis_of_2008">Economic crisis of 2008</a></em></p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">Kekisruhan pasar saham di <a title="January 2008 stock market volatility" href="http://en.wikipedia.org/wiki/January_2008_stock_market_volatility">Januari 2008 </a></li>
<li class="MsoNormal">Pengambil alihan Northern      Rock pada February 22, 2008 oleh pemerintah Inggris</li>
<li class="MsoNormal">Pengambil alihan <a title="Bear Stearns" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bear_Stearns">Bear      Stearns</a></li>
<li class="MsoNormal"><a title="Federal takeover of Fannie Mae and Freddie Mac" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Federal_takeover_of_Fannie_Mae_and_Freddie_Mac"><span style="color:windowtext;text-decoration:none;"><span> </span></span>Pengambil alihan pemerintah      Federal atas Fannie Mae and Freddie Mac</a></li>
<li class="MsoNormal"><a title="Global financial crisis of September–October 2008" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Global_financial_crisis_of_September%E2%80%93October_2008">Global financial      crisis of September–October 2008</a> (dimuali dengan <span> </span><a title="Bankruptcy of Lehman Brothers" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bankruptcy_of_Lehman_Brothers">bangkrutnya<span> </span>Lehman Brothers</a>)
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal">Kerugian besar di       pasar financial di seluruh dunia selama September dan awal Oktober.</li>
<li class="MsoNormal"><a title="Emergency Economic Stabilization Act of 2008" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Emergency_Economic_Stabilization_Act_of_2008">Emergency Economic       Stabilization Act of 2008</a> diterbitkan</li>
<li class="MsoNormal"><a title="2008 Icelandic financial crisis" href="http://en.wikipedia.org/wiki/2008_Icelandic_financial_crisis">Nasionalisasi tiga bank di       Islandia</a>, kemungkinan menjadi pertanda “kebangkrutan nasional”</li>
<li class="MsoNormal">Pemerintah AS       dan Eropa mengalokasikan investasi pemerintah di perbankan, penjaminan       pinjaman, dan peningkatan jaminan deposito.</li>
<li class="MsoNormal">Pada 13 October       pemerintah Inggris menyediakan $60 milyar dan mengambil alih 60% saham di       Royal Bank of Scotland       dan 40% in Lloyds TSB and Hbos.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<h2><span class="editsection"></span></h2>
<p class="MsoNormal">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=100&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2008/10/13/financial-crisis-of-2007%e2%80%932008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hiro Onoda, a true Soldier</title>
		<link>http://damartriadi.wordpress.com/2008/08/15/hiro-onoda-a-true-soldier/</link>
		<comments>http://damartriadi.wordpress.com/2008/08/15/hiro-onoda-a-true-soldier/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 01:26:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>damartriadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://damartriadi.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[This is a true story of a Japanese Soldier in WW II that stood loyally until 1974, 29 years after the end of WWII. He was ordered to remain at his position until further  orders, and he did exactly that. This is his story: Onoda was trained by the Nakano School, after which he was [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=98&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>This is a true story of a Japanese Soldier in WW II that stood loyally until 1974, 29 years after the end of WWII. He was ordered to remain at his position until further  orders, and he did exactly that.</p>
<p>This is his story:</p>
<p>Onoda was trained by the <a title="Nakano School" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nakano_School">Nakano School</a>, after which he was stationed on <a title="Lubang Island" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Lubang_Island">Lubang Island</a> in the <a title="Philippines" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Philippines">Philippines</a>. He was there when it was reclaimed by the <a title="Allies" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allies">Allies</a> in February 1945, towards the conclusion of <a title="World War II" href="http://en.wikipedia.org/wiki/World_War_II">World War II</a>. Most of the Japanese troops were killed or captured by Allied forces. Onoda, and several other men, hid in the <a class="mw-redirect" title="Jungle (terrain)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jungle_%28terrain%29">jungle</a>.</p>
<p><span id="more-98"></span></p>
<h3><span class="mw-headline">Time in hiding</span></h3>
<p>Onoda continued his campaign, initially living in the mountains with three fellow soldiers (Yuichi Akatsu, Siochi Shimada and Kinshichi Kozuka). One of his comrades, Akatsu, eventually surrendered to Filipino forces in 1950 and confirmed that Onoda and the other two were alive. Shimada was killed in a gun battle with local forces in 1954, and Kozuka was killed in 1972, leaving Onoda alone in the mountains. For 29 years, he refused to surrender, dismissing as a ruse every attempt to convince him that the war was over. In 1959, Onoda was declared legally dead in Japan.</p>
<p>Found by a Japanese student, Norio Suzuki, Onoda still refused to abandon his mission, unless he received orders to lay down his arms from his superior officer. Suzuki offered his help, and returned to Japan with photographs of himself and Onoda as proof of their encounter. In 1974 the Japanese government located Onoda&#8217;s commanding officer, Major Taniguchi, who had since become a bookseller. He flew to Lubang and informed Onoda of the defeat of Japan in WWII and ordered him to lay down his arms. Lieutenant Onoda emerged from the jungle 29 years after the end of World War II, and accepted the commanding officer&#8217;s order of surrender in his <a title="Uniform" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Uniform">uniform</a> and <a title="Sword" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sword">sword</a>, with his <a title="Arisaka" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Arisaka">Arisaka</a> <a title="Type 99 rifle" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Type_99_rifle">Type 99 rifle</a> still in operating condition, 500 rounds of <a title="Ammunition" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ammunition">ammunition</a> and several <a title="Hand grenade" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hand_grenade">hand grenades</a>. This makes him the second-to-last fighting Japanese soldier of World War II, before <a title="Teruo Nakamura" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Teruo_Nakamura">Teruo Nakamura</a>. Although many sources in modern culture poke fun at Onoda for &#8220;not believing the war was over,&#8221; the primary motivation related to his devout belief in military discipline and honor: He had been ordered to never leave his post until he received a specific order enabling him to do so. Those orders did not arrive until 1974.</p>
<p>Though he had killed some thirty Philippine inhabitants of the island and engaged in several shootouts with the police, the circumstances of these events were taken into consideration, and Onoda received a pardon from President <a title="Ferdinand Marcos" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ferdinand_Marcos">Ferdinand Marcos</a>.</p>
<p>After his surrender, Onoda moved to <a title="Brazil" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Brazil">Brazil</a>, where he became a cattle <a title="Farmer" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Farmer">farmer</a>. He released an autobiography, <em>No Surrender: My Thirty-Year War</em>, shortly after his surrender, detailing his life as a guerrilla fighter in a war that was long over. He revisited Lubang Island in 1996, donating $10,000 for the local school on Lubang. He then married a Japanese woman (at age 74) and moved back to Japan where he established a nature camp for children. At the camp Onoda shares what he learned about survival through resourcefulness and ingenuity. <a class="mw-redirect" title="As of 2008" href="http://en.wikipedia.org/wiki/As_of_2008">As of 2008</a>, Onoda is still living in Japan. He is an assenter of <em><a title="The Truth about Nanjing" href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Truth_about_Nanjing">The Truth about Nanjing</a></em> movie.</p>
<p>Source : http://en.wikipedia.org/wiki/Hiroo_Onoda</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/damartriadi.wordpress.com/98/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/damartriadi.wordpress.com/98/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/damartriadi.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/damartriadi.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/damartriadi.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/damartriadi.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/damartriadi.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/damartriadi.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/damartriadi.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/damartriadi.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/damartriadi.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/damartriadi.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/damartriadi.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/damartriadi.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/damartriadi.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/damartriadi.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=damartriadi.wordpress.com&amp;blog=1519781&amp;post=98&amp;subd=damartriadi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://damartriadi.wordpress.com/2008/08/15/hiro-onoda-a-true-soldier/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e0851034e5676ed4914cc5ba2444a68?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">damartriadi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
