“Sejarah selalu berulang…” (Nietzsche)
Pada tahun 2000, ekonomi AS mengalami perlambatan yang susah diketahui penyebabnya, namun ditenggarai banyaknya perusahaan AS yang membuka pabriknya di negara-negara berkembang menjadi pemicu persoalan. Defisit perdagangan AS secara kontinyu terus meningkat, tanpa ada harapan ada pemulihan. Produk murah dari luar menjadi sumber konsumsi yang menarik bagi warga AS yang hampir 30%-nya mengalami obesitas karena hiper-konsumtif itu. Perlahan tapi pasti, produktivitas ekonomi AS semakin menurun. Pasar uang dan saham yang tidak ada hubungannya dengan sector riil, instrument-instrumen derivative yang berbau judi, proses kapitalisasi financial yang semakin menggila, menjadi penggerak ekonomi AS yang semakin dominan. Wall Street menjadi sumber kekayaan bangsa AS, dengan berbagai banker dan pedagang saham menjadi kaya secara tidak proporsional karena proses-proses seperti “Leveraged Boy Out”, Merger dan akuisisi, Initial dan Secondary Public Offerings, dsb. Mereka membawa pulang bonus tahunan yang mencapai enam, tujuh, atau bahkan delapan digit US Dollar. Selanjutnya, kekayaan ini sebagian besar dikonsumsi untuk membeli produk-produk murah buatan Cina dan Vietnam, diputar kembali dalam instrument investasi yang juga sejenis, dan hanya sebagian kecil sekali yang masuk sebagai sumber investasi di sector riil yang menyerap tenaga kerja, apalagi tenaga kerja lokal AS. Secara domestic, produksi ekonomi AS semakin dikuasai oleh kegiatan-kegiatan seperti ini. Sementara itu, sumber produksi ekonomi yang riil semakin sedikit yang bertahan di AS. Persaingan bebas menyebabkan lebih banyak perusahaan yang menutup pabrik-pabriknya di AS dan merelokasi ke negara seperti Vietnam, Cina, Eropa Timur, dll. Berbagai kota industri yang dulu tumbuh berkembang karena industrialisasi di pedalaman AS, seperti Detroit, Michigan, telah terdegradasi menjadi kota kumuh penuh konflik antar geng sehingga dijadikan tema dalam film fiksi seperti “Robocop”.
Read more »